Dalam
rinduku
Kau
adalah langit pencipta hujan paling diam.
Diam?
Iya,
diam— Tanpa suara apalagi pertanda.
Namun
kerap mengundangmu sebagai pencipta gemuruh paling riuh di hatiku.
Riuh?
Iya,
riuh— Riuh selalu meminta temu.
Hujan
datang tanpa pernah kumau.
Tetes
demi tetesnya kutampung dalam setiap tengadah ke dua tanganku.
Apa
yang bisa kulakukan?
Tak
ada— Selain terus merayu dan
menimang-nimang namamu dalam setiap doaku.
Berharap
kelak sang Agung melukisku sebagai pelangi di tubuhmu.
0 komentar:
Posting Komentar