Sabtu, 19 Juli 2014

kotak tanpa warna

pernahkah kau merasa ada pada titik yang membuatmu terdiam dalam gejolak hati yang tak mampu kau bungkam?
berada dalam keadaan di mana kau tidak mengerti apapun. seolah setiap kata yang pernah tinggal di kepalamu hilang tanpa sisa. tidak mengerti dimana letak titik kehidupan yang mengharuskanmu berhenti. pun koma yang mengharuskanmu untuk kembali berjalan. kau termangu. merasa berada di tempat asing yang tak pernah kau kenali. duniamu kau rasa seperti kotak putih tanpa warna apapun. tanpa siapapun. 

kau bertanya-tanya. apakah diammu ini adalah bentuk penantian yang tak mampu kau ungkapkan? ayolah. tidak ada seseorang yang mampu melihat ke dalam hatimu. jangan hanya termangu pada setiap keinginan yang bergejolak. ungkapkanlah. 

dengan apa? kau tahu aku kini tak mengenal satu kosa katapun. aku lupa caranya bicara. aku lupa caranya melangkah untuk pindah. aku lupa caranya mengungkapkan. bahkan aku lupa aku siapa. aku hanya ingin menunggu dia datang dan mengembalikan ingatan saraf-saraf motorikku.

tapi dia tidak akan datang pada seseorang yang menjauh An. datanglah padanya. bersimpuhlah. dan berhenti menerka-nerka dan bicara pada bayanganmu dalam cermin. jika kau tak mengenali dirimu sendiri, bagaimana mungkin kau mengenali dia yang akan menolongmu keluar dari kotak putih tanpa warna itu. berwudhulah. berdiri satu shaf di belakangku. kita datang bersama-sama menghampirinya. meminta kotak baru yang penuh warna seperti dulu. karena hanya Dia yang mampu mengembalikan semua. dan hanya Dia yang mampu mengirimkan seseorang yang mampu mengerti gejolak hatimu.

yah, baiklah. seandainya saja yang berdiri di depan pintu dan bicara itu bukan bayanganku yang lain, mungkin aku tidak akan merasa sesendirian ini.

Senin, 07 Juli 2014

Aku Rindu. Tapi Aku Malu. Dan Aku Mau

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada sudut bibirmu yang begitu indah merekahkan senyum.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada tajam tatap kedua mata elangmu.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada dada bidangmu yang akan menelan tubuhku hidup-hidup.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada sepasang tanganmu yang siap menangkap dan membelai helai demi helai di kepalaku.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada bibirmu yang selalu sajikan hangat pada dahi yang tak seberapa indah di tubuh ini.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu karena aku mau. Aku mau lebih lama menikmati rekah sudut bibirmu. Aku mau lebih lama terbunuh tajam tatap matamu. Aku mau terkubur dalam dada bidangmu. Dan aku mau, lelap dalam belai dan hangat kecupmu meski takkan pernah lagi terbangun. Iya. Aku rindu. Dan aku malu pada yang kumau. Memelukmu.

Minggu, 06 Juli 2014

aku ingin menjadi randa tapak dengan kau sebagai satu-satunya tanah yang tersisa.

tidak ada siang yang lebih indah. kecuali desau angin yang terus bernyanyi dan mengajak dedaunan menari. pun tidak ada pagi yang lebih indah kecuali decitan burung yang menciptakan irama cinta bagi embun dan daun. 

lalu bagaimana dengan malam? 

malampun tidak akan indah. kecuali, deretan rasi-rasi bintang yang berkelap kelip terseyum meski sepi tanpa kunang yang menari. 

jika begitu, kesedihan tentu tentang siang tanpa desau angin. pagi yang sunyi bagi daun dan embun pagi. dan malam, tanpa kerlip bintang pun kunang-kunang.

tidak. itu bukan kesedihan. itu hanya kesepian.

lalu kesedihan itu seperti apa?

kesedihan ialah ketika desau angin membawamu kepada begitu banyak tanah. tapi, sekalipun kau tak diinginkan pemiliknya. 

kenapa? 

karena kau adalah randa tapak. yang baginya kau hanya perdu liar tak berguna. hanya merusak indahnya saja.

lalu jika randa tapak itu adalah dirimu, apa yang akan kau lakukan?

aku akan tetap tumbuh. subur dan kembali berbunga. dan sebelum desau angin kembali menerbangkanku, aku ingin kau menjadi satu-satunya tanah yang tersisa dan tidak ada pemiliknya. 

Aku

akulah buku, yang telah menyerahkan setiap lembarnya untuk kau gores dengan tinta yang kau punya. sebagai apa kau kuingat, tergantung bagaimana kau menciptakan setiap goresan di tubuhku. aku percaya, di setiap lembar yang kupunya hanya akan ada senyum dan kebahagian yang tinggal di sana. tapi, ketika aku membuka lembar demi lembar tubuhku, kenapa kau meninggalkan goresan basah di atas goresan riang yang kau ciptakan? harusnya di lembar ini hanya ada bahagia bukan?

akulah sebuah luka yang menyerahkan setiap jengkal diriku untuk kau rawat. aku percaya,kau akan mengganti setiap perban yang menutupi luka ini setiap hari sampai ia memgering dan tak berbekas lagi. tapi, ketika aku merasa nyeri dan mengintip setiap sayatan ditubuhku, kenapa aku menemukan begitu banyak perban yang menutupinya? apa kau tidak menggantinya? harusnya hanya ada satu perban baru yang menutupinya bukan? tapi, kenapa justru perban-perban yang saling menumpuk dan bergumul darah ini? 

akulah bibir yang menitipkan senyum dan tawa kepadamu, bahagia. aku tidak akan pernah merasa letih meski harus terbahak setiap hari. tapi, kenapa senyum dan tawa yang kau berikan ini terasa berbeda? rasanya seperti jeruk nipis atau lemon tanpa campuran apa-apa? bahkan terkadang seperti asam kandis dan brotowali. inikah senyum dan tawa bahagia itu? 

akulah gembok yang telah menyerahkan anak kunciku untuk kau jaga dan miliki. agar hanya kau yang memiliki dan mampu membukanya. aku percaya kau akan menyimpannya, tapi kenapa kau membiarkan ia hilang begitu saja?

dan akulah bunga yang menyerahkan tubuhku untuk kau jelmakan sebagai apa. 
aku ingin menjadi kaktus. bisikku. tapi, kau menjadikanku mawar. kering, lalu layu dan terbuang.

Kamis, 26 Juni 2014

Kembar Siam

Cinta. Luka. Dua hal berbeda namun begitu akrab bersandingan. Lahir bersama. Mereka kembar siam. Setidaknya itu menurutku. Bagaimana dengan bahagia? Bahagia bagiku hanya serupa kembang gula. Pernahkah kau jatuh cinta tanpa terluka? Pernahkah kau mencinta tanpa rasa nyeri yang meletup-letup di dada? Luka selalu sepaket dengan cinta. Pernah merasakan terluka tepat disaat hatimu jatuh cinta? Pernahkah? Aku pernah.

Ini bukan tentang luka karena cinta yang di tolak. Bukan pula luka karena cinta yang tak bisa bersama. Namun ini luka saat cinta sedang ada di dekatku. Sedang bersamaku. Milikku. Tidak. Ini bukan tentang kekasih yang mencintai orang lain. Atau barangkali iya. Barangkali memang kekasihku sedang mencintai orang lain. Perempuan lain.

Aku sedang jatuh cinta. Dan aku juga sedang terluka. Rasa nyeri, dan sesak meletup-letup di dadaku. Dadaku gunung. Gunung penuh gemuruh. Gunung yang ingin meletus namun tidak dengan memuntahkan laharnya. Melainkan menelan seluruhnya yang ada. Lahar yang membakar. Debu yang menyesakkan dan memerihkan. Bebatuan yang menghantam. Aku menelan apa yang harusnya aku muntahkan. Kenapa? Karena aku jatuh cinta. Dan aku terluka. Luka dari cinta yang begitu sulit kubaca. Luka yang ku rasa saat aku sedang jatuh (cinta) begitu dalam.

Kamis, 19 Juni 2014

Mengoyak Luka

Kembali ke kota itu
Bak berdiri di hamparan tanah tanpa melihat apa apa.
Hanya ada karbondioksida yang tersisa
Hujan es tiba tiba mengguyur seluruh permukaan bumi.

Halusinasi menyergap segala kesepian
Kumpulan luka bertebaran di atas kulit ari yang tak tersayat sedikitpun.
Aku seperti tertelan mesin waktu--membuka perban yang masih berlumuran darah dan nanah
Lalu berputar dan kembali ke pemakaman jenazah yang telah lama dikuburkan.

Air mata tak lagi bermuara di pipi.
Ia tenggelam, mengalir semakin ke dasar dan menciptakan genangannya sendiri.

Kau tahu
Menangis dengan berliter-liter air yang menderai masih lebih menyenangkan
Dibandingkan hati yang menderu-deru dalam kesendirian.

Isakan merupa jeritan hati paling diam.
Aku tak mampu membaca diriku sendiri.
Barangkali aku hanya bayangan yang diam
patuh menyaksikan tubuhku menyayat dirinya sendiri.

Kamis, 15 Mei 2014

Sosok di Balik Pintu


Pukul tujuh malam di koridor lantai dua.
"Mama atau nenek ya?. Tapi itu kan bukan kamar mereka".
Liandra, anak perempuan berumur 8 tahun itu melangkah ragu. Mondar-mandir di depan pintu. Menundukkan kepala. Berhenti. Menopang dagu. Melangkah lagi. Berhenti lagi. Menopang dagu lagi. Terus begitu.
"Liandra, ada apa?".
Perempuan mengenakan mini dress dan menggenggam sebilah pisau tiba-tiba muncul di depan pintu."Tidak ma. Aku seperti mendengar sura dari situ".
"Emm, seperti suara nenek waktu seumuran Mama. Tapi..". Liandra gemetar menunjuk pintu.
"Sudahlah. Ayo kita ke meja makan. Sudah waktunya makan malam". Mama menuntun liandra turun sambil sedikit berteriak ke arah pintu.
"Kak, lekas ganti pakaianmu. Sudah waktunya makan malam, sayang". 
***
Di balik pintu.
"Aku tidak ingin memakai kemeja ini lagi. Aku bukan Papa, Ma".Viona terpaku.

Pengakuan


(jelang kepergian)

Aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Meneteskan air mata sebab akulah si lemah yang tak pernah suka pada (jarak) penyebab perpisahan.

Aku memandang lekat-lekat setiap jengkal wajah indahmu.
Menyimpannya lebih banyak di ingatanku
Sebagai pengobat saat kau tak mampu kutemukan untukku melepas rindu.

Skand, jagalah perempuan yang selalu kau bilang cantik ini di ingatan.Jagalah perempuan yang selalu kau goda ini setiap pagi menjelang.
Dan, (Skand) jagalah perempuan yang terlalu manja pada ketiadaan hadirmu ini
saat kau tak nyata di hadapan.

Jarak memaksa kita untuk saling berjauhan.
Kau pasti tahu (Skand).
Kali ini, aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Tapi, untuk kali ini semua berbeda.
Aku tidak lagi merasa semua ini sebagai luka apalagi pesakitan.
Namun, tak juga kurasakan sebagai bahagia.

Bagaimana mungkin aku mengaggap ini kebahagiaan?
Jika hadirmu saja tak nyata di hadapan.
Aku hanya bisa memelukmu lewat tengadah kedua tangan.
Lewat doa-doa yang kukirimkan.
Sebagai perawat untuk rindu-rinduku yang mulai lebam.

Jumat, 25 April 2014

Ciuman Pagi Ratih

Ratih tahu betul bahwa lelaki bernama Lesmana itu idak akan pernah meninggalkannya. Itu adalah satu-satunya keyakinan yang selalu Ratih tanamkan agar  ia tetap kuat. Ratih memang kerap menangis tanpa sepengetahuan Lesmana. Itu karena ia begitu takut pada kesendirian. Hatinya kerap terasa begitu kosong. Pun begitu sesak di jejali rindu yang memaksanya untuk menghadirkan Lesmana, lelaki yang sangat dicintainya. Namun ia tidak bisa. Ratih tidak bisa lagi membuat lelaki itu selalu ada di sampingnya setiap waktu--berbagi tawa dan lelucon yang sebenarnya tidak lucu sedikitpun.

Rindu memang tidak pernah mengenal waktu. Meski waktu telah menunjukkan tepat jam 2 pagi, Ratih masih saja terjaga. Menghitung rintik-rintik hujan yang masih saja betah turun di langit matanya. Jatuh dengan pasti di atas kasur lusuh berseprai hitam itu. Ratih selalu suka seprei berwana hitam. Bukan karena kesedihan dan ketakutannya, tapi karena ratih tidak perlu mencucinya ketika sisa-sisa mereka bercinta masih tertinggal di sana. Ratih suka pada aromanya. Selalu menjadi penina bobo setelah tubuhnya letih bercakap-cakap dan menangisi Lesmana.
Ratih tersengal-sengal menahan agar hujan yang ia turunkan tak bersuara dan terjatuh di atas tubuh dingin Lesmana yang sedang tertidur disampingnya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Ratih selalu bangun dengan kain hitam menutup matanya. Dan dengan tubuh yang gemetar, Ratih mengecup kening Lesmana secara perlahan. Ratih tak ingin menghancurkan tubuh suaminya yang tak pernah sampai ke resepsi pernikahan mereka yang ke dua setelah menyalip truk bermuatan penuh di tikungan tajam empat puluh hari yang lalu.

Kamis, 24 April 2014

Cambuk Rindu

Saat  seperti ini
Aku tidak tahu harus bicara pada siapa.
Kepadamu?
Itu tentu hanya akan mencipta luka baru di dadamu.
Kepadaku?
Sudah pasti takkan pernah kutemukan jawaban barang hanya satu.

Aku butuh tempat bersandar.
Saat udara yang kuhirup terasa berkurang asupannya.
Pun saat kuhembuskan dari rongga hidungku.
Semua terasa menyesakkan.

Aku lagi-lagi harus kehilangan.
Ketika kamu yang kurindu kembali tak mampu hadiahkanku temu
Dan memaksaku terus memeluk bayangmu.
Merasakan detik-demi detik waktu mencambuk dadaku.

Minggu, 13 April 2014

Kesepian di Tubuhku


Di kepalaku hidup begitu banyak rasa takut kehilanganmu.
Namun aku terlalu bodoh untuk tahu bagaimana cara mengungkapkannya kepadamu.
Egoku selalu betah bermain di sana
Menghidupkan segala emosiku hingga kepalaku selalu melontarkannya sebagai amarah

Iya, aku lemah.
Di hadapanmu aku memang suka berpura-pura.
Namun saat tak ada siapa-siapa
Hatiku menjerit merasa begitu pedih.
Seperti berdiri tanpa ada yang mampu melihatku di sini.

Saat yang lain tertawa "haha hihi" di luar sana
Di sini aku kerap menangis sendiri.
Aku takut pada kesendirian ini.
Aku begitu takut.
Karena aku tahu pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar bisa berada di sisiku setiap waktu.

Iya. Seperti saat ini.
Saat aku kalah melawan perasaanku sendiri.

Rabu, 26 Maret 2014

Sepasang Doa(Kita)

Pada tiap helai daun kering yang jatuh itu skand
Di sana tertulis "semoga" yang kerap kau ucapkan
Dan "aamiin-ku" ialah apa yang tak pernah kau bayangkan;
Ialah tanah kering yang kelak ditumbuhi tanaman
Ialah hujan gerimis yang takkan pernah sebabkan gigil kedinginan
Ialah angin yang bawakan serbuk sari kepada putik.
Kau tau artinya?
Kelak, di tanah kering yang dijatuhi dedaunan kering ini
Tanaman kan berbunga indah tiada henti.
Kita hanya butuh sedikit air untuk membuatnya berbuah.
Dan kelak, ketika Tuhan telah menyambut sepasang tangan kita
Seberapapun deras hujan membasahi
Seberapapun angin menghempas tubuh ringkih ini
Kita akan tetap berpegangan erat
Hangat dalam tiap titik-titik hujan yang kian rapat.

Kabut di Mataku


Musim telah berganti
Di mataku yang langit
Awan telah berubah hitam
Menampung titik-titik air yang kelak kan menjadi hujan

Angin gemerisikkan dedaunan
Mengalunkan dahan kesana-kemari
Menari
Rayakan guguran daun kering
 
Harusnya langit telah turunkan hujan
Harusnya kabut tak lagi betah sesakkan dada
Harusnya mataku telah bening melihat sekitar
Harusnya

Namun langit tetap saja gelap
Awan hitam tetap kukuh tak teteskan hujan
Langit tetap kelabu
Dan kabut terlalu kukuh halangi mataku

Kamis, 06 Februari 2014

9 #kuncen #CoffeeBar dan Pemilik tetap Cinta(ku)

Kak Na, Umi Yani, Winny zombie, Tante Mel, Vitri, Mas Kopicup, Bayu, Widi, dan yang terakhir Dika. Kalian 9 orang dari miliyaran manusia di bumi ini yang kukenal dan masuk ke dalam hatiku tanpa pernah kurencanakan sebelumnya. Aku tidak tahu harus meyebut kalian sebagai apa. Sahabat, Teman, Keluarga, mungkin semuanya. Kita memang belum pernah bertemu, tapi entah kenapa rasanya kalian nyata di hatiku, atau mungkin ini hanya perasaanku saja? entah lah. Kuharap kalian juga merasakan hal yang sama.

nyanyian bantal

Aku ingin menangis, menangis sejadi-jadinya. ini perih sekali, kau tahu, sungguh perih. Aku benci, aku ingin berteriak, tapi percuma saja, semua tak akan mengembalikannya seperti sedia kala. Aku benci kamu, aku benci ketidak sukaanku. Aku benci sendiri, tapi aku juga benci ada kau di sini. aku benci diriku yang seperti ini. aku benci lagi-lagi harus mengalah pada ketidak sukaanku. aku berhak egois bukan? aku berhak untuk tidak mengalah pada ketidak sukaanku bukan? tapi kau?. Ahh aku benci.

Lihatlah, aku akhirnya menangis. Puaskah kau lagi-lagi membuat air mataku ini mengalir?. Puaskah kau melihat aku berkali-kali mengalah pada ketidak sukaanku? sedang kau?
Inikah cinta itu? Inikah bahagia yang selalu kau tawarkan padaku?. Bahkan disaat aku ingin hanya ada tawa untuk beberapa saat saja, kau justru ciptakan tangis yang kian deras di mataku. Lagi-lagi, kau patahkan kakiku untuk melangkah, kau patahkan lagi tanganku untuk menggapai, dan kau, lagi-lagi lukai hatiku menjadi kian perih. Aku benci ini, aku benci.

"Aku nggak bisa tanpa kamu Mel!!"
"Nggak bisa katamu?.Lalu bagaimana aku?. Apa kau fikir aku bisa terus begini?. Sekali saja, bisakah kau buat aku untuk tidak menangis saat aku benar-benar butuh ketenangan Yan?. Sidangku tinggal beberapa hari lagi, tapi kau selalu membuat pikiranku kacau begini. Bahkan membayangkan sekedar menenagkan resahku di pundakmu pun rasanya aku nggak sanggup!!"
"Tapi Mel, ini semua bukan keinginan aku".
"Iya, semua hal yang menyakitkanku selalu kau bilang bukan keinginanmu, padahal semua nyata berasal darimu Briyan!. Sudahlah, lebih baik kau pergi."

Amelia melangkah memunggungi lelaki yang selalu saja mengatakan "ini bukan keinginanku" untuk semua pesakitan yang ia ciptakan di hati wanita yang "katanya" amat sangat ia cintai, termasuk malam ini, kesekian kali membuatnya menunggu berjam-jam untuk janji yang ia buat sendiri lalu, dengan tiba-tiba pula ia batalkan dengan seenak hati. Sampai di persimpangan, Amelia menyebrangi jalan, kemudian tiba-tiba saja

"Brakkkk"
Suara seperti benda terhantam terdengar jelas di telinga Briyan.

"Amelia!!"
Briyan sontak berlari menuju sumber suara berasal. Amelia rebah, darahpun terus saja keluar dari kepalanya yang pecah. Amelia tertabrak, ya, ia tertabrak sebuah mobil yang kemudian langsung saja "berlari" setelah menelindas kepalanya. Tak ada yang berani mendekat, semua hanya berdiri mematung, bahkan sekedar memanggil ambulance saja tak ada yang berani.

"Apa ini?. Aku kenapa?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Kenapa ramai sekali?"
"Briyan, kenapa ia ada di sini dan menangis? lalu kenapa aku tergeletak di sini?"

Aku coba bertanya pada salah satu perempuan setengah baya yang sedang berdiri dalam kerumunan orang yang berada di sekelilingku. Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulutnya.

"Kasihan gadis ini, ia masih terlalu muda untuk meninggal apalagi dengan cara seperti ini. Kulihat tadi ia baru saja bertengkar dengan kekasihnya di depan Cafe itu". Ucapnya pada perempuan setengah baya lain di sebelahnya sambil  menunjuk ke arahku. Aku tidak mengerti, ku coba berdiri, dan alangkah terkejutnya aku--saat kudapati diriku sendiri bersimpah darah dan tak bernafas lagi.

"Tidak!!".
Aku melangkah mundur seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku seperti menabrak sesuatu dan terjatuh.

"Aww, sakit sekali".
Sakit? Aku berfikir keras, apakah orang yang meninggal bisa merasakan sakit? Langit malam menjadi sama persis dengan langit-langit kamar. Dan semua keramaian, lalu tubuh yang tergeletak bersimpah darah dan Briyan yang menangis, kemana semua itu? Amelia masih menerawang, sayup-sayup terdengar nada dering dari ponselnya berbunyi dari bawah bantal.

Senin, 03 Februari 2014

Sajak Haiku

HAIKU. Pertama aku dengar kata itu, dalam hati aku langsung berucap "wah ini pasti tentang jepang". Dan benar sekali, haiku adalah sajak yang berasal dari jepang. Awalnya aku tidak tertarik sama sekali. Bahkan ketika seorang temanku membahas soal "Haiku", aku memilih untuk tidak ikut serta dan memilih diam saja. Sampai pada suatu hari, aku bersama orang terdekatku  pergi ke sebuah toko buku. Di sana aku menemukan sebuah buku berjudul "Danau Angsa".Yang membuat aku tertarik dengan buku itu bukanlah judul apalagi isinya, akan tetapi aku tertarik dengan sampulnya. Iya, sampulnya. Aku memang salah satu orang yang menilai suatu buku lewat sampulnya. Tapi, itu bukan satu-satunya cara aku menilai sebuah buku. Hanya saja untuk buku-buku yang aku tidak tau aku selalu memilihnya lewat sampul terlebih dahulu, baru kemudian melihat isi buku tersebut. Balik lagi ke soal "Haiku". Iya, buku Danau Angsa tersebut ternyata berisi antologi 500 Haiku dari komunitas Danau Angsa. Awalnya aku ragu untuk membeli buku itu, akan tetapi setelah aku berkeliling dan hampir tertarik untuk mengambil buku puisi lain dan meninggalkan Danau Angsa tersebut, pada akhirnya aku memilih antologi haiku tersebut untuk kubeli.
 
Sesampainya di rumah dan setelah aku membaca beberapa sajak "Haiku" dari komunitas Danau Angsa, aku seperti menemukan sesuatu yang entah itu apa tapi aku begitu menyukainya. Sepertinya aku jatuh cinta pada haiku. Sajak-sajak tersebut begitu...ahh entahlah, rasanya begitu sulit untuk digambarkan. Rasanya aku begitu ingin menulisnya. Pertama kali aku mencobanya aku merasa begitu kesulitan. Sampai akhirnya aku memulainya dengan mencoba memahami terlebih dahulu apa itu "Haiku". Dan dari buku Danau Angsa jugalah aku tahu, bahwa haiku tidak hanya soal sajak trdisional dari jepang saja. Akan tetapi Haiku merupakan sajak yang terdiri dari 3 bait dan terdiri dari 17 suku kata dimana sajak Haiku ini memiliki pola 5-7-5. Dan yang terpenting lagi, sajak Haiku ini berkaitan denga musim.Meskipun aku telah mencoba memahaminya, aku masih tetap saja merasa kesulitan. Dan ini merupakan sajak Haiku yang telah coba untuk kubuat. Awalnya, aku tidak "PD" untuk memposting Haiku buatanku ini. Sampai akhirnya di sebuah akun puisi ternama @bait_puisi mengadakan tema malam dengan hastag puisihaiku, saat itu lah aku mencoba memberanikan diri untuk meposting Haiku buatanku dan sampailah aku mepostingnya di blog ini. 

PEMILU
   Tahun pemilu
   Nyanyian janji merdu
   Semua semu.

PUNGGUK DAN BULAN
   Di langit malam
   Pungguk rindukan bulan
   Cinta hayalan.

DEBU
   Temaram lampu
   Hias malam berdebu
   Bulan cemburu

MALAM
   Penghujung senja
   Punggung mencuri bulan
   Malam Menghilang.

RANTING PATAH
   Desau angin
   Gugurkan daun kering
   Patahlah ranting.

HAIKU HUJAN DAN BANJIR
   Musim penghujan
   Jalan penuh genangan
   Tikus sok pusing

   Sumur resapan
   Digagas untuk hujan
   Sakunya banjir

   Tak ada beras
   Sawah habis tenggelam
   Tikus tak lapar

Itulah beberapa Haiku yang coba kutulis. Jika masih kurang pemaknaanya, aku harap bisa diwajarkan  ya, buahahaha. Soalnya aku juga masih belajar, hihihih. Salam kata^^.

Minggu, 12 Januari 2014

Kepergianku

Tentang masa lalu, ia tak lebih dari rasa yang telah dirupakan menjadi sampah. Maka berhentilah mengaisnya. Itu hanya akan mencipta luka yang seharusnya tak perlu kembali ada.


Hujan turun begitu deras. Aku terdiam, terus menatap punggung yang sejak tadi tak juga berhenti mengais tumpukan-tumpukan buku usang penuh debu itu.
"Kamu nyari apa sel?"
Pemilik punggung itu masih tak juga bergeming. Aku masih saja diam dalam resah. Di kepalaku berkelibatan berpuluh-puluh pertanyaan sama yang tak juga aku temukan jawabannya—apa yang sebenarnya dia cari ?. Tiba-tiba saja punggung itu berhenti bergerak setelah menemukan satu buku yang sangat-sangat aku kenali. Astaga mau apalagi dia? Terakhir dia membaca buku yang tak jauh berbeda dengan yang saat ini ada di tangannya, perang dunia yang entah keberapa terjadi di dunia kami.
“Huuuhh”.
Aku menghela nafas dan hatiku terasa begitu nyeri. Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini. Terus dihakimi perihal masa lalu yang aku sendiri sebenarnya tak ingin mengingatnya lagi. Kamu itu kekasih atau pengacara yang menghakimiku sel? Kita sedang menjalin cinta bukan? Lagi-lagi semua pertanyaan itu hanya mampu bergeming di hatiku.
Marsel masih saja diam, sepertinya terlihat begitu asik membolak balikan kertas yang telah menguning itu. Aku diam saja, karena jujur saja aku tidak tahu harus melakukan apa. Itu semua masa laluku. Tapi kenapa terus dihadirkan oleh masa depanku.
“Huhhhh”. Aku menghela nafas untuk yang ke dua kalinya.
“Nilu ini apa?”
“Kenapa kamu masih bertanya? Kamu menemukan itu di antara tumpukan buku-buku usangku bukan? Ahh tidak, kamu mencarinya. Yah, kamu mencarinya tadi. Harusnya kamu tau itu apa, bukan justru bertanya kepadaku Marsel”.
Marsel terdiam, menunduk dan masih saja membolak-balikkan lembar demi lembar buku usang itu. Tak ada pilihan lain, aku harus mengabaikannya. Yah, mengabaikan apa yang membuatku luka.
“Aku pulang”.
“Yah, jangan pernah kembali ke sini lagi”.
“Bukankah kamu tidak pernah memperdulikan apa yang kau rasakan?” Marsel pergi begitu saja meninggalkanku. Aku terdiam. Hanya itu yang bisa aku katakan untuk mengantarkan kepulangannya. Bahkan kakiku pun terasa begitu berat untuk melangkah mengantarkannya sampai ke beranda rumah. Kesekian kalinya marsel memperlakukanku seperti ini. Mengungkit masa lalu yang dia anggap menyakitinya tanpa pernah berfikir itu juga menyakitiku. Apakah aku di sini dan memilihnya tak juga cukup untuk membuatnya mengerti seberapa besar cinta yang kupunya untuknya ini ?.
Aku melangkah dengan perasaan yang entah. Andai saja aku bisa menangis sederas hujan malam ini, bukan hanya air yang menggenang namun tak jatuh dari mataku. Ini sangat menyakitkan, yah sangat menyakitkan. Mungkin air mataku telah mongering dan habis. Sakit ini sudah terlalu sering aku rasakan. Kurasa, kita tak perlu lagi bersama. Aku hanya mencipta luka bagimu bukan? Jangan pernah memintaku kembali sebelum kau mampu menghargai hadirku disini, dan berhenti mengais luka dalam rasa yang telah kulebur menjadi sampah.

Hatimu lemah, tak siap dan tak kuat.
Tapi kenapa, kau selalu saja mengais luka di antara tumpukan-tumpukan rasa yang telah kujadikan sampah.
Ini semua bukan hanya tentangmu, tapi ini tentang kita. Bukankan kita itu berarti kau dan aku?
Aku di sini sekarang denganmu, tapi kenapa kau selalu berlari ke ujung masa laluku dan mengaisnya kepermukaan lalu menyiramnya dengan larutan asam?
Kapan kau sadar aku di sini berarti aku memilihmu?
Dan kapan kau sadar luka itu tak hanya menyakitimu?
Mungkin aku harus pergi
Sebab aku di sini saja tak bisa buatmu mengerti
Yah, aku pergi, dan jangan pernah memintaku kembali.

Jumat, 03 Januari 2014

Kulepas Cinta Itu Pergi. Tapi (KAU) Kembali.

Cinta tak selalu jatuh pada orang yang tepat. Itu lah yang menyebabkan seseorang merasakan sesuatu bernama “Derita”. Dan untuk menemukan cinta yang tepat, terkadang seseorang perlu jatuh terlebih dahulu dalam sebuah kesalahan yang begitu mendalam.

Pagi itu seperti biasa, aku melangkahkan kakiku ini dengan penuh keyakinan. Yang berbeda hanyalah, saat ini aku melangkah bersama kepingan hati yang tersisa. Kucoba saja untuk biasa, tersenyum dan menyapa pada mereka yang saat itu punya tujuan yang sama denganku--mengikuti tiap-tiap kelas hingga berakhir dengan hasil memuaskan. Entah kenapa, pagi dan kelas beserta isinya pun seolah hanyalah kepingan yang tersisa. Meski mataku terus menatap proyektor yang terpampang jelas dihadapanku, aku tetap saja melihatnya samar. Dan meskipun telah kukerahkan seluruh kemampuan otakku untuk menangkap apa yang dosen sampaikan, tetap saja hanya kepingan-kepingan yang tersisa yang bisa kupahami. Hanya judul materi tanpa satupun isinya yang kuingat.

“Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya”

Kalimat itu menyadarkan aku dari lamunan yang telah kuputuskan untuk kupilih sejak aku menyadari tak akan bisa menyerap materi perkuliahan hari ini. Tanpa instruksi, langsung saja kubawa buku dan tasku beranjak dari ruang pekat itu untuk segera menuju toilet. Membasuh muka, diam dan berdiri menatap lekat-lekat setiap inci wajahku.

“Hei,

Ayah

Ayah
seberapapun yang aku lakukan untukmu
takkan pernah aku ingin mengeluh
sekalipun ragaku tak henti merasakan lelah setiap waktu
dalam sakit yang kau rasakan
jangankan memelukmu, menatap wajahmu lebih dari satu menit saja rasanya aku tak mampu

Ayah
bukan tak mau, aku hanya tak mampu
menahan bulir air dari mataku agar tak jatuh saat aku memelukmu
dan aku tak pernah ingin kau melihat tangisku ayah
karena aku tak ingin kau tahu
seberapa lemah hatiku melihat semua pengorbananmu

Ayah
di hadapanmu aku ingin selalu terlihat kuat
agar kelak, di masa rentamu yang senja
kau tak perlu berpikir keras bagaimana aku menjalani hidup.

Aku yang melupa

Kala itu, dua belas Desember dua ribu sepuluh.
Tepat tiga tahun yang lalu,
kau menancapkan panah cintamu
di sini, tepat di hatiku.

Wajah lugumu kala itu
membuatku tak pernah ingin berhenti;
Menghadirkanmu di setiap inci ingatanku.
Aku memandangmu,
memandang semua keindahanmu ;
Pada tajam tatap matamu, pada wajah lugumu,
dan pada senyum sipumu.

Semakin kau tersipu,
semakin tak ingin aku berhenti; Memandangmu.
Aku begitu bahagia melihat senyummu kala itu.

Kini, dua belas Desember dua ribu tiga belas.
Begitu banyak yang sudah kita lewati bersama.
Bahagia, duka, kecewa dan merana.
Tertawa dan menangis bersama

Maaf, maafkan aku yang telah merubah senyum sipu itu
menjadi sebuah luka yang merupa awan hitam,
membawa bulir air yang kemudian jatuh pada mata indahmu
Maaf, maaf aku pernah menanam luka di hatimu.

Terhitung hari ini, aku tidak akan pernah memintamu melupakannya
Terhitung malam ini, aku yang akan belajar menjadi lupa.
Agar aku bisa mengembalikan senyum sipu indah,
dari bibirmu seperti kala itu.

Rindu (Ocehan dua insa yang tak ingin saling melepaskan) Kita

Kau candu.
Kebahagian dalam potret kenangan itu,
mencipta simpul di bibir yang kau bilang ranum.
Di atas senyum simpulku
Bulir air jatuh, membasahi pipiku yang memerah seperti jambu.

Kau menyebutnya sebagai tangisan.
Tak apa, lagi pula aku menangis bukan karena aku membenci
Bukan pula karena aku dendam ataupun sakit hati.
Aku menangis karena aku sedang merindu.
Rindu dengan semua masa indah yang menyatukan kita

Rindu..rindu.
Rindu yang dengannya aku memanggilmu
Karena disetiap rindu yang aku rasakan,
hanya dirimu yang diingat oleh otakku.
Ingin rasanya, disetiap aku merindu selalu ada kamu disampingku.
Hanya dengan cara itu, rinduku sedikit berkurang tapi tidak pernah menghilang
 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template