Pada
tangkai-tangkai rumput yang basah, aku ingin mengukir namamu sebagai
kebahagiaan. Meski gerimis yang datang, menjadikan pertemuan ini sebagai
perpisahan. Dan, merubah segala musim yang ada menjadi mendung tak
berkesudahan.
Langit begitu cerah.
Biru muda dengan sedikit awan yang menghiasinya. Matahari bersinar begitu cerah
namun tidak terlalu terik dan membakar kulit. Angin sepoi yang berhembus
menambahkan kesejukan siang ini. Aku duduk di atas sepeda motor yang ia
kendarai, memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Kamu mau makan apa?”
Sayup-sayup kudengar
suara bertanya kepadaku. Tidak terlalu jelas memang. Tapi tetap merdu. Hembusan
angin yang masuk dari sela-sela helm yang kukenakan tidak mampu menyamarkan
suara indahnya.
“Terserah kamu saja”
Aku selalu menyerahkan
segala yang dipertanyakan kepadaku kembali kepadaya. Bukan tidak ingin menjawab. Meski ia kerap kesal tapi
dengan membiarkan ia memilih dan aku menerimanya adalah caraku menghargainya.
Setelah beberapa lama di perjalanan akhirnya kami sampai, di sebuah rumah makan
“terserah kamu saja”. Ini memang bukan restorant mewah. Bahkan jauh dari kata
mewah. Sebuah warung yang tidak terlalu besar dan terletak di pinggir jalan.
Sederhana. Itu satu-satunya kata yang tepat untuk tempat ini. Meski sederhana,
tapi warung ini cukup ramai pembeli. Sepertinya cukup enak. Terbukti dari meja
dan kursi yang hampir semua terisi. Beruntung masih ada satu meja dengan empat
kursi kosong tersisa. Aku duduk di hadapannya. Dia tidak terlalu banyak bicara.
Bahkan hanya beberapa kata saja sampai kami selesai lalu melanjutkan
perjalanan.
“Kita mau kemana?”
Aku mengeryitkan dahiku
menunggu jawaban yang akan ia keluarkan. Bingung? Tentu saja. Sejak selesai
makan tadi dia sama sekali tidak banyak bicara apalagi memberitahu kemana ia
akan membawaku dengan sepeda motor berwana merah dan hitam ini.
“Ikut saja nanti kamu
juga akan tahu. Seandainya aku bertanya kamu ingin kemana, aku pasti akan
mendapatkan dua jawaban. Pertama, terserah kamu saja dan kedua aku ikut kamu
saja. Dan sekarang kamu ikut aku saja ya”. Dia terkekeh.
Aku mendenguskan nafas.
Memajukan hampir semua bibirku. Aku sedikit kesal dibuat penasaran seperti ini.
Tapi dia memang benar. Seandainya dia bertanyapun aku akan tetap menyerahkan
kepadanya ingin membawaku kemana. Aku mengencangkan pelukanku, menyandarkan
kepalaku di pundaknya dan aku memutuskan untuk tidur selama perjalanan.
“Kita sampai”.
Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh tanganku yang masih erat memeluk
pinggangnya, Tanpa sepatah katapun aku turun. Melepaskan helm dan meletakkannya
di atas jok sepeda motor.
“Di mana ini? indah
sekali”. Hanya kalimat itu yang mampu kukeluarkan. Sambil melihat sekelilingku.
Sebuah taman dengan kemiringan tanah yang tidak sama. Beberapa bagian membentuk
seperti bukit-bukit dalam versi kecil. Ada berbagai macam pohon dan bunga.
Taman ini tidak terlalu ramai. Mngkin karena ini bukan hari libur. Tapi aku
cukup senang, karena itu berarti aku tidak harus berbagi tempat dengan
pengunjung lain. Dan aku bisa bebas berlarian di taman ini.
“Ayo kita ke atas”. Dia
melangkah sambil menarik lembut tanganku. Di atas hamparan rumput hijau aku dan
dia duduk. Diam dan saling menopang dagu. Entah siapa yang lebih dulu
memulainya. Aku dan dia tiba-tiba saja sudah saling merebahkan diri di atas
rerumputan hijau itu. Merentangkan kedua tangan, menatap langit dan masih tetap
saling bungkam.
“Semua terasa lebih
berat Nai, Terlebih untuk melihatmu. Seandainya di hidupmu ada pilihan, aku
ingin mendengar pilihan itu dari mulutmu”.
Akhirnya dia
mengeluarkan kalimat itu. Hatiku tersentak. Tentu saja. Namun aku tetap berusaha
untuk tenang. Aku masih tak bergeming. Tetap diam. Tersenyum pada langit.
Hatiku sesak dipenuhi kesedihan. Untuk menyamarkan tangis aku duduk. Berdiri
lalu melangkahkan kakiku menjauhinya. Sebuah pilihan. Dia bilang setiap manusia
hidup selalu memiliki pilihan. Dan pilihanku adalah untuk menerima. Bukan
memilih. Seandainya aku mampu memilih, semua kesedihan ini tentu tidak akan
menaungi hidupku serupa awan hitam yang kapan saja siap menurunkan gerimis
karena menghabiskan hidup bersama lelaki yang diperkenalkan keluargaku. Aku
menghentikan langkahku. Bercangkung dan mengambil rumput dan memainkannya.
Untuk beberapa saat yang entah aku asik sendiri dengan rumput yang mungkin
kesal karena kuputar-putar. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan di
telingaku dan sedikit dorongan di punggungku.
“Darrr!!!”
Dia mengagetkanku
hingga kedua telapak kakiku tidak lagi bertumpu pada tanah. Aku terduduk. Dia
berlari. Aku mengejarnya. Dia berputar-putar di tengah rumput-rumput yang
kumainkan untuk menghindariku. Aku terus mengejarnya sampai pada akhirnya ia
pura-pura lelah dan menyerah. Aku menangkapnya, menggelitik pinggangnya. Dia
membalasku. Lalu kami tertawa terbahak. Bahagia. Seperti yang pernah ia
inginkan. Di pertemuan terakhir ini ia ingin menghabiskan hari bersamaku dengan
tawa dan bahagia sampai benar-benar lelah. Kami kembali duduk. Dan aku kembali
mencabut rumput dan memainkannya. Dia mengikutiku. Seandainya rerumputan
itu bisa bicara, kurasa ia pasti akan
memakiku—karena aku mengajarkan orang lain untuk mencabut dan memainkannya. Aku
terus memutar-mutar tangkai rumput itu. Dalam diam aku berusaha menciptakan
kalimat. Aku harus bicara.
“Maafkan aku,Iyan”.
Usahaku ternyata hanya
membuahkan kalimat itu saja. Sebuah kalimat maaf. Aku menyerah untuk memulai
lagi percakapan denganya. Aku merebahkan kembali tubuhku. Merentangkan kedua
tanganku di atas rerumputan itu. Langit yang cerah mulai merubah dirinya. Angin
membawa awan yang sedikit hitam berarak menghiasi langit. Germis perlahan mulai
turun. Aku masih tak bergeming. Membiarkan gerimis menjatuhkan dirinya di
tubuhku. Aku menikmatinya dalam diam. Kulirikkan kedua bola mataku ke arahnya
yang masih saja betah bermain dengan rumput-rumput itu. Samar-samar kulihat
gerimis yang lebih deras jatuh di sana--pada rumput-rumput yang ia letakkan
tepat di bawah matanya. Aku kembali menatap langit lalu kemudian memejamkan
mata. Aku tidak ingin membukanya lagi. Karena saat aku membuka mata, aku pasti
tidak akan pernah menemukan apa-apa lagi. Kecuali, secarik kertas dengan puisi
terakhir yang ia tulis saat aku memainkan rumput-rumput yang lebih dulu basah
sebelum langit menjatuhkan gerimisnya. Dan benar memang apa yang ia tuliskan.
Bahwa gerimis ini adalah akhir dari segalanya. Segala kebahagian dan
kebersamaan.
0 komentar:
Posting Komentar