Jumat, 25 April 2014

Ciuman Pagi Ratih

Ratih tahu betul bahwa lelaki bernama Lesmana itu idak akan pernah meninggalkannya. Itu adalah satu-satunya keyakinan yang selalu Ratih tanamkan agar  ia tetap kuat. Ratih memang kerap menangis tanpa sepengetahuan Lesmana. Itu karena ia begitu takut pada kesendirian. Hatinya kerap terasa begitu kosong. Pun begitu sesak di jejali rindu yang memaksanya untuk menghadirkan Lesmana, lelaki yang sangat dicintainya. Namun ia tidak bisa. Ratih tidak bisa lagi membuat lelaki itu selalu ada di sampingnya setiap waktu--berbagi tawa dan lelucon yang sebenarnya tidak lucu sedikitpun.

Rindu memang tidak pernah mengenal waktu. Meski waktu telah menunjukkan tepat jam 2 pagi, Ratih masih saja terjaga. Menghitung rintik-rintik hujan yang masih saja betah turun di langit matanya. Jatuh dengan pasti di atas kasur lusuh berseprai hitam itu. Ratih selalu suka seprei berwana hitam. Bukan karena kesedihan dan ketakutannya, tapi karena ratih tidak perlu mencucinya ketika sisa-sisa mereka bercinta masih tertinggal di sana. Ratih suka pada aromanya. Selalu menjadi penina bobo setelah tubuhnya letih bercakap-cakap dan menangisi Lesmana.
Ratih tersengal-sengal menahan agar hujan yang ia turunkan tak bersuara dan terjatuh di atas tubuh dingin Lesmana yang sedang tertidur disampingnya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Ratih selalu bangun dengan kain hitam menutup matanya. Dan dengan tubuh yang gemetar, Ratih mengecup kening Lesmana secara perlahan. Ratih tak ingin menghancurkan tubuh suaminya yang tak pernah sampai ke resepsi pernikahan mereka yang ke dua setelah menyalip truk bermuatan penuh di tikungan tajam empat puluh hari yang lalu.

Kamis, 24 April 2014

Cambuk Rindu

Saat  seperti ini
Aku tidak tahu harus bicara pada siapa.
Kepadamu?
Itu tentu hanya akan mencipta luka baru di dadamu.
Kepadaku?
Sudah pasti takkan pernah kutemukan jawaban barang hanya satu.

Aku butuh tempat bersandar.
Saat udara yang kuhirup terasa berkurang asupannya.
Pun saat kuhembuskan dari rongga hidungku.
Semua terasa menyesakkan.

Aku lagi-lagi harus kehilangan.
Ketika kamu yang kurindu kembali tak mampu hadiahkanku temu
Dan memaksaku terus memeluk bayangmu.
Merasakan detik-demi detik waktu mencambuk dadaku.

Minggu, 13 April 2014

Kesepian di Tubuhku


Di kepalaku hidup begitu banyak rasa takut kehilanganmu.
Namun aku terlalu bodoh untuk tahu bagaimana cara mengungkapkannya kepadamu.
Egoku selalu betah bermain di sana
Menghidupkan segala emosiku hingga kepalaku selalu melontarkannya sebagai amarah

Iya, aku lemah.
Di hadapanmu aku memang suka berpura-pura.
Namun saat tak ada siapa-siapa
Hatiku menjerit merasa begitu pedih.
Seperti berdiri tanpa ada yang mampu melihatku di sini.

Saat yang lain tertawa "haha hihi" di luar sana
Di sini aku kerap menangis sendiri.
Aku takut pada kesendirian ini.
Aku begitu takut.
Karena aku tahu pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar bisa berada di sisiku setiap waktu.

Iya. Seperti saat ini.
Saat aku kalah melawan perasaanku sendiri.
 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template