Kamis, 26 Juni 2014

Kembar Siam

Cinta. Luka. Dua hal berbeda namun begitu akrab bersandingan. Lahir bersama. Mereka kembar siam. Setidaknya itu menurutku. Bagaimana dengan bahagia? Bahagia bagiku hanya serupa kembang gula. Pernahkah kau jatuh cinta tanpa terluka? Pernahkah kau mencinta tanpa rasa nyeri yang meletup-letup di dada? Luka selalu sepaket dengan cinta. Pernah merasakan terluka tepat disaat hatimu jatuh cinta? Pernahkah? Aku pernah.

Ini bukan tentang luka karena cinta yang di tolak. Bukan pula luka karena cinta yang tak bisa bersama. Namun ini luka saat cinta sedang ada di dekatku. Sedang bersamaku. Milikku. Tidak. Ini bukan tentang kekasih yang mencintai orang lain. Atau barangkali iya. Barangkali memang kekasihku sedang mencintai orang lain. Perempuan lain.

Aku sedang jatuh cinta. Dan aku juga sedang terluka. Rasa nyeri, dan sesak meletup-letup di dadaku. Dadaku gunung. Gunung penuh gemuruh. Gunung yang ingin meletus namun tidak dengan memuntahkan laharnya. Melainkan menelan seluruhnya yang ada. Lahar yang membakar. Debu yang menyesakkan dan memerihkan. Bebatuan yang menghantam. Aku menelan apa yang harusnya aku muntahkan. Kenapa? Karena aku jatuh cinta. Dan aku terluka. Luka dari cinta yang begitu sulit kubaca. Luka yang ku rasa saat aku sedang jatuh (cinta) begitu dalam.

Kamis, 19 Juni 2014

Mengoyak Luka

Kembali ke kota itu
Bak berdiri di hamparan tanah tanpa melihat apa apa.
Hanya ada karbondioksida yang tersisa
Hujan es tiba tiba mengguyur seluruh permukaan bumi.

Halusinasi menyergap segala kesepian
Kumpulan luka bertebaran di atas kulit ari yang tak tersayat sedikitpun.
Aku seperti tertelan mesin waktu--membuka perban yang masih berlumuran darah dan nanah
Lalu berputar dan kembali ke pemakaman jenazah yang telah lama dikuburkan.

Air mata tak lagi bermuara di pipi.
Ia tenggelam, mengalir semakin ke dasar dan menciptakan genangannya sendiri.

Kau tahu
Menangis dengan berliter-liter air yang menderai masih lebih menyenangkan
Dibandingkan hati yang menderu-deru dalam kesendirian.

Isakan merupa jeritan hati paling diam.
Aku tak mampu membaca diriku sendiri.
Barangkali aku hanya bayangan yang diam
patuh menyaksikan tubuhku menyayat dirinya sendiri.
 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template