Minggu, 12 Januari 2014

Kepergianku

Tentang masa lalu, ia tak lebih dari rasa yang telah dirupakan menjadi sampah. Maka berhentilah mengaisnya. Itu hanya akan mencipta luka yang seharusnya tak perlu kembali ada.


Hujan turun begitu deras. Aku terdiam, terus menatap punggung yang sejak tadi tak juga berhenti mengais tumpukan-tumpukan buku usang penuh debu itu.
"Kamu nyari apa sel?"
Pemilik punggung itu masih tak juga bergeming. Aku masih saja diam dalam resah. Di kepalaku berkelibatan berpuluh-puluh pertanyaan sama yang tak juga aku temukan jawabannya—apa yang sebenarnya dia cari ?. Tiba-tiba saja punggung itu berhenti bergerak setelah menemukan satu buku yang sangat-sangat aku kenali. Astaga mau apalagi dia? Terakhir dia membaca buku yang tak jauh berbeda dengan yang saat ini ada di tangannya, perang dunia yang entah keberapa terjadi di dunia kami.
“Huuuhh”.
Aku menghela nafas dan hatiku terasa begitu nyeri. Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini. Terus dihakimi perihal masa lalu yang aku sendiri sebenarnya tak ingin mengingatnya lagi. Kamu itu kekasih atau pengacara yang menghakimiku sel? Kita sedang menjalin cinta bukan? Lagi-lagi semua pertanyaan itu hanya mampu bergeming di hatiku.
Marsel masih saja diam, sepertinya terlihat begitu asik membolak balikan kertas yang telah menguning itu. Aku diam saja, karena jujur saja aku tidak tahu harus melakukan apa. Itu semua masa laluku. Tapi kenapa terus dihadirkan oleh masa depanku.
“Huhhhh”. Aku menghela nafas untuk yang ke dua kalinya.
“Nilu ini apa?”
“Kenapa kamu masih bertanya? Kamu menemukan itu di antara tumpukan buku-buku usangku bukan? Ahh tidak, kamu mencarinya. Yah, kamu mencarinya tadi. Harusnya kamu tau itu apa, bukan justru bertanya kepadaku Marsel”.
Marsel terdiam, menunduk dan masih saja membolak-balikkan lembar demi lembar buku usang itu. Tak ada pilihan lain, aku harus mengabaikannya. Yah, mengabaikan apa yang membuatku luka.
“Aku pulang”.
“Yah, jangan pernah kembali ke sini lagi”.
“Bukankah kamu tidak pernah memperdulikan apa yang kau rasakan?” Marsel pergi begitu saja meninggalkanku. Aku terdiam. Hanya itu yang bisa aku katakan untuk mengantarkan kepulangannya. Bahkan kakiku pun terasa begitu berat untuk melangkah mengantarkannya sampai ke beranda rumah. Kesekian kalinya marsel memperlakukanku seperti ini. Mengungkit masa lalu yang dia anggap menyakitinya tanpa pernah berfikir itu juga menyakitiku. Apakah aku di sini dan memilihnya tak juga cukup untuk membuatnya mengerti seberapa besar cinta yang kupunya untuknya ini ?.
Aku melangkah dengan perasaan yang entah. Andai saja aku bisa menangis sederas hujan malam ini, bukan hanya air yang menggenang namun tak jatuh dari mataku. Ini sangat menyakitkan, yah sangat menyakitkan. Mungkin air mataku telah mongering dan habis. Sakit ini sudah terlalu sering aku rasakan. Kurasa, kita tak perlu lagi bersama. Aku hanya mencipta luka bagimu bukan? Jangan pernah memintaku kembali sebelum kau mampu menghargai hadirku disini, dan berhenti mengais luka dalam rasa yang telah kulebur menjadi sampah.

Hatimu lemah, tak siap dan tak kuat.
Tapi kenapa, kau selalu saja mengais luka di antara tumpukan-tumpukan rasa yang telah kujadikan sampah.
Ini semua bukan hanya tentangmu, tapi ini tentang kita. Bukankan kita itu berarti kau dan aku?
Aku di sini sekarang denganmu, tapi kenapa kau selalu berlari ke ujung masa laluku dan mengaisnya kepermukaan lalu menyiramnya dengan larutan asam?
Kapan kau sadar aku di sini berarti aku memilihmu?
Dan kapan kau sadar luka itu tak hanya menyakitimu?
Mungkin aku harus pergi
Sebab aku di sini saja tak bisa buatmu mengerti
Yah, aku pergi, dan jangan pernah memintaku kembali.

Jumat, 03 Januari 2014

Kulepas Cinta Itu Pergi. Tapi (KAU) Kembali.

Cinta tak selalu jatuh pada orang yang tepat. Itu lah yang menyebabkan seseorang merasakan sesuatu bernama “Derita”. Dan untuk menemukan cinta yang tepat, terkadang seseorang perlu jatuh terlebih dahulu dalam sebuah kesalahan yang begitu mendalam.

Pagi itu seperti biasa, aku melangkahkan kakiku ini dengan penuh keyakinan. Yang berbeda hanyalah, saat ini aku melangkah bersama kepingan hati yang tersisa. Kucoba saja untuk biasa, tersenyum dan menyapa pada mereka yang saat itu punya tujuan yang sama denganku--mengikuti tiap-tiap kelas hingga berakhir dengan hasil memuaskan. Entah kenapa, pagi dan kelas beserta isinya pun seolah hanyalah kepingan yang tersisa. Meski mataku terus menatap proyektor yang terpampang jelas dihadapanku, aku tetap saja melihatnya samar. Dan meskipun telah kukerahkan seluruh kemampuan otakku untuk menangkap apa yang dosen sampaikan, tetap saja hanya kepingan-kepingan yang tersisa yang bisa kupahami. Hanya judul materi tanpa satupun isinya yang kuingat.

“Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya”

Kalimat itu menyadarkan aku dari lamunan yang telah kuputuskan untuk kupilih sejak aku menyadari tak akan bisa menyerap materi perkuliahan hari ini. Tanpa instruksi, langsung saja kubawa buku dan tasku beranjak dari ruang pekat itu untuk segera menuju toilet. Membasuh muka, diam dan berdiri menatap lekat-lekat setiap inci wajahku.

“Hei,

Ayah

Ayah
seberapapun yang aku lakukan untukmu
takkan pernah aku ingin mengeluh
sekalipun ragaku tak henti merasakan lelah setiap waktu
dalam sakit yang kau rasakan
jangankan memelukmu, menatap wajahmu lebih dari satu menit saja rasanya aku tak mampu

Ayah
bukan tak mau, aku hanya tak mampu
menahan bulir air dari mataku agar tak jatuh saat aku memelukmu
dan aku tak pernah ingin kau melihat tangisku ayah
karena aku tak ingin kau tahu
seberapa lemah hatiku melihat semua pengorbananmu

Ayah
di hadapanmu aku ingin selalu terlihat kuat
agar kelak, di masa rentamu yang senja
kau tak perlu berpikir keras bagaimana aku menjalani hidup.

Aku yang melupa

Kala itu, dua belas Desember dua ribu sepuluh.
Tepat tiga tahun yang lalu,
kau menancapkan panah cintamu
di sini, tepat di hatiku.

Wajah lugumu kala itu
membuatku tak pernah ingin berhenti;
Menghadirkanmu di setiap inci ingatanku.
Aku memandangmu,
memandang semua keindahanmu ;
Pada tajam tatap matamu, pada wajah lugumu,
dan pada senyum sipumu.

Semakin kau tersipu,
semakin tak ingin aku berhenti; Memandangmu.
Aku begitu bahagia melihat senyummu kala itu.

Kini, dua belas Desember dua ribu tiga belas.
Begitu banyak yang sudah kita lewati bersama.
Bahagia, duka, kecewa dan merana.
Tertawa dan menangis bersama

Maaf, maafkan aku yang telah merubah senyum sipu itu
menjadi sebuah luka yang merupa awan hitam,
membawa bulir air yang kemudian jatuh pada mata indahmu
Maaf, maaf aku pernah menanam luka di hatimu.

Terhitung hari ini, aku tidak akan pernah memintamu melupakannya
Terhitung malam ini, aku yang akan belajar menjadi lupa.
Agar aku bisa mengembalikan senyum sipu indah,
dari bibirmu seperti kala itu.

Rindu (Ocehan dua insa yang tak ingin saling melepaskan) Kita

Kau candu.
Kebahagian dalam potret kenangan itu,
mencipta simpul di bibir yang kau bilang ranum.
Di atas senyum simpulku
Bulir air jatuh, membasahi pipiku yang memerah seperti jambu.

Kau menyebutnya sebagai tangisan.
Tak apa, lagi pula aku menangis bukan karena aku membenci
Bukan pula karena aku dendam ataupun sakit hati.
Aku menangis karena aku sedang merindu.
Rindu dengan semua masa indah yang menyatukan kita

Rindu..rindu.
Rindu yang dengannya aku memanggilmu
Karena disetiap rindu yang aku rasakan,
hanya dirimu yang diingat oleh otakku.
Ingin rasanya, disetiap aku merindu selalu ada kamu disampingku.
Hanya dengan cara itu, rinduku sedikit berkurang tapi tidak pernah menghilang
 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template