Kamis, 15 Mei 2014
Sosok di Balik Pintu
Pukul tujuh malam di koridor lantai dua.
"Mama atau nenek ya?. Tapi itu kan bukan kamar mereka".
Liandra, anak perempuan berumur 8 tahun itu melangkah ragu. Mondar-mandir di depan pintu. Menundukkan kepala. Berhenti. Menopang dagu. Melangkah lagi. Berhenti lagi. Menopang dagu lagi. Terus begitu.
"Liandra, ada apa?".
Perempuan mengenakan mini dress dan menggenggam sebilah pisau tiba-tiba muncul di depan pintu."Tidak ma. Aku seperti mendengar sura dari situ".
"Emm, seperti suara nenek waktu seumuran Mama. Tapi..". Liandra gemetar menunjuk pintu.
"Sudahlah. Ayo kita ke meja makan. Sudah waktunya makan malam". Mama menuntun liandra turun sambil sedikit berteriak ke arah pintu.
"Kak, lekas ganti pakaianmu. Sudah waktunya makan malam, sayang".
***
Di balik pintu.
"Aku tidak ingin memakai kemeja ini lagi. Aku bukan Papa, Ma".Viona terpaku.
Pengakuan
(jelang kepergian)
Aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Meneteskan air mata sebab akulah si lemah yang tak pernah suka pada (jarak) penyebab perpisahan.
Aku memandang lekat-lekat setiap jengkal wajah indahmu.
Menyimpannya lebih banyak di ingatanku
Sebagai pengobat saat kau tak mampu kutemukan untukku melepas rindu.
Skand, jagalah perempuan yang selalu kau bilang cantik ini di ingatan.Jagalah perempuan yang selalu kau goda ini setiap pagi menjelang.
Dan, (Skand) jagalah perempuan yang terlalu manja pada ketiadaan hadirmu ini
saat kau tak nyata di hadapan.
Jarak memaksa kita untuk saling berjauhan.
Kau pasti tahu (Skand).
Kali ini, aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Tapi, untuk kali ini semua berbeda.
Aku tidak lagi merasa semua ini sebagai luka apalagi pesakitan.
Namun, tak juga kurasakan sebagai bahagia.
Bagaimana mungkin aku mengaggap ini kebahagiaan?
Jika hadirmu saja tak nyata di hadapan.
Aku hanya bisa memelukmu lewat tengadah kedua tangan.
Lewat doa-doa yang kukirimkan.
Sebagai perawat untuk rindu-rinduku yang mulai lebam.
Langganan:
Postingan (Atom)

