Sabtu, 19 Juli 2014

kotak tanpa warna

pernahkah kau merasa ada pada titik yang membuatmu terdiam dalam gejolak hati yang tak mampu kau bungkam?
berada dalam keadaan di mana kau tidak mengerti apapun. seolah setiap kata yang pernah tinggal di kepalamu hilang tanpa sisa. tidak mengerti dimana letak titik kehidupan yang mengharuskanmu berhenti. pun koma yang mengharuskanmu untuk kembali berjalan. kau termangu. merasa berada di tempat asing yang tak pernah kau kenali. duniamu kau rasa seperti kotak putih tanpa warna apapun. tanpa siapapun. 

kau bertanya-tanya. apakah diammu ini adalah bentuk penantian yang tak mampu kau ungkapkan? ayolah. tidak ada seseorang yang mampu melihat ke dalam hatimu. jangan hanya termangu pada setiap keinginan yang bergejolak. ungkapkanlah. 

dengan apa? kau tahu aku kini tak mengenal satu kosa katapun. aku lupa caranya bicara. aku lupa caranya melangkah untuk pindah. aku lupa caranya mengungkapkan. bahkan aku lupa aku siapa. aku hanya ingin menunggu dia datang dan mengembalikan ingatan saraf-saraf motorikku.

tapi dia tidak akan datang pada seseorang yang menjauh An. datanglah padanya. bersimpuhlah. dan berhenti menerka-nerka dan bicara pada bayanganmu dalam cermin. jika kau tak mengenali dirimu sendiri, bagaimana mungkin kau mengenali dia yang akan menolongmu keluar dari kotak putih tanpa warna itu. berwudhulah. berdiri satu shaf di belakangku. kita datang bersama-sama menghampirinya. meminta kotak baru yang penuh warna seperti dulu. karena hanya Dia yang mampu mengembalikan semua. dan hanya Dia yang mampu mengirimkan seseorang yang mampu mengerti gejolak hatimu.

yah, baiklah. seandainya saja yang berdiri di depan pintu dan bicara itu bukan bayanganku yang lain, mungkin aku tidak akan merasa sesendirian ini.

Senin, 07 Juli 2014

Aku Rindu. Tapi Aku Malu. Dan Aku Mau

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada sudut bibirmu yang begitu indah merekahkan senyum.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada tajam tatap kedua mata elangmu.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada dada bidangmu yang akan menelan tubuhku hidup-hidup.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada sepasang tanganmu yang siap menangkap dan membelai helai demi helai di kepalaku.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu pada bibirmu yang selalu sajikan hangat pada dahi yang tak seberapa indah di tubuh ini.

Aku rindu. Tapi aku malu. Malu karena aku mau. Aku mau lebih lama menikmati rekah sudut bibirmu. Aku mau lebih lama terbunuh tajam tatap matamu. Aku mau terkubur dalam dada bidangmu. Dan aku mau, lelap dalam belai dan hangat kecupmu meski takkan pernah lagi terbangun. Iya. Aku rindu. Dan aku malu pada yang kumau. Memelukmu.

Minggu, 06 Juli 2014

aku ingin menjadi randa tapak dengan kau sebagai satu-satunya tanah yang tersisa.

tidak ada siang yang lebih indah. kecuali desau angin yang terus bernyanyi dan mengajak dedaunan menari. pun tidak ada pagi yang lebih indah kecuali decitan burung yang menciptakan irama cinta bagi embun dan daun. 

lalu bagaimana dengan malam? 

malampun tidak akan indah. kecuali, deretan rasi-rasi bintang yang berkelap kelip terseyum meski sepi tanpa kunang yang menari. 

jika begitu, kesedihan tentu tentang siang tanpa desau angin. pagi yang sunyi bagi daun dan embun pagi. dan malam, tanpa kerlip bintang pun kunang-kunang.

tidak. itu bukan kesedihan. itu hanya kesepian.

lalu kesedihan itu seperti apa?

kesedihan ialah ketika desau angin membawamu kepada begitu banyak tanah. tapi, sekalipun kau tak diinginkan pemiliknya. 

kenapa? 

karena kau adalah randa tapak. yang baginya kau hanya perdu liar tak berguna. hanya merusak indahnya saja.

lalu jika randa tapak itu adalah dirimu, apa yang akan kau lakukan?

aku akan tetap tumbuh. subur dan kembali berbunga. dan sebelum desau angin kembali menerbangkanku, aku ingin kau menjadi satu-satunya tanah yang tersisa dan tidak ada pemiliknya. 

Aku

akulah buku, yang telah menyerahkan setiap lembarnya untuk kau gores dengan tinta yang kau punya. sebagai apa kau kuingat, tergantung bagaimana kau menciptakan setiap goresan di tubuhku. aku percaya, di setiap lembar yang kupunya hanya akan ada senyum dan kebahagian yang tinggal di sana. tapi, ketika aku membuka lembar demi lembar tubuhku, kenapa kau meninggalkan goresan basah di atas goresan riang yang kau ciptakan? harusnya di lembar ini hanya ada bahagia bukan?

akulah sebuah luka yang menyerahkan setiap jengkal diriku untuk kau rawat. aku percaya,kau akan mengganti setiap perban yang menutupi luka ini setiap hari sampai ia memgering dan tak berbekas lagi. tapi, ketika aku merasa nyeri dan mengintip setiap sayatan ditubuhku, kenapa aku menemukan begitu banyak perban yang menutupinya? apa kau tidak menggantinya? harusnya hanya ada satu perban baru yang menutupinya bukan? tapi, kenapa justru perban-perban yang saling menumpuk dan bergumul darah ini? 

akulah bibir yang menitipkan senyum dan tawa kepadamu, bahagia. aku tidak akan pernah merasa letih meski harus terbahak setiap hari. tapi, kenapa senyum dan tawa yang kau berikan ini terasa berbeda? rasanya seperti jeruk nipis atau lemon tanpa campuran apa-apa? bahkan terkadang seperti asam kandis dan brotowali. inikah senyum dan tawa bahagia itu? 

akulah gembok yang telah menyerahkan anak kunciku untuk kau jaga dan miliki. agar hanya kau yang memiliki dan mampu membukanya. aku percaya kau akan menyimpannya, tapi kenapa kau membiarkan ia hilang begitu saja?

dan akulah bunga yang menyerahkan tubuhku untuk kau jelmakan sebagai apa. 
aku ingin menjadi kaktus. bisikku. tapi, kau menjadikanku mawar. kering, lalu layu dan terbuang.
 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template