Kak Na, Umi Yani, Winny zombie, Tante Mel, Vitri, Mas Kopicup, Bayu, Widi, dan yang terakhir Dika. Kalian 9 orang dari miliyaran manusia di bumi ini yang kukenal dan masuk ke dalam hatiku tanpa pernah kurencanakan sebelumnya. Aku tidak tahu harus meyebut kalian sebagai apa. Sahabat, Teman, Keluarga, mungkin semuanya. Kita memang belum pernah bertemu, tapi entah kenapa rasanya kalian nyata di hatiku, atau mungkin ini hanya perasaanku saja? entah lah. Kuharap kalian juga merasakan hal yang sama.
Kamis, 06 Februari 2014
nyanyian bantal
Aku ingin menangis, menangis sejadi-jadinya. ini perih sekali, kau tahu, sungguh perih. Aku benci, aku ingin berteriak, tapi percuma saja, semua tak akan mengembalikannya seperti sedia kala. Aku benci kamu, aku benci ketidak sukaanku. Aku benci sendiri, tapi aku juga benci ada kau di sini. aku benci diriku yang seperti ini. aku benci lagi-lagi harus mengalah pada ketidak sukaanku. aku berhak egois bukan? aku berhak untuk tidak mengalah pada ketidak sukaanku bukan? tapi kau?. Ahh aku benci.
Lihatlah, aku akhirnya menangis. Puaskah kau lagi-lagi membuat air mataku ini mengalir?. Puaskah kau melihat aku berkali-kali mengalah pada ketidak sukaanku? sedang kau?
Inikah cinta itu? Inikah bahagia yang selalu kau tawarkan padaku?. Bahkan disaat aku ingin hanya ada tawa untuk beberapa saat saja, kau justru ciptakan tangis yang kian deras di mataku. Lagi-lagi, kau patahkan kakiku untuk melangkah, kau patahkan lagi tanganku untuk menggapai, dan kau, lagi-lagi lukai hatiku menjadi kian perih. Aku benci ini, aku benci.
"Aku nggak bisa tanpa kamu Mel!!"
"Nggak bisa katamu?.Lalu bagaimana aku?. Apa kau fikir aku bisa terus begini?. Sekali saja, bisakah kau buat aku untuk tidak menangis saat aku benar-benar butuh ketenangan Yan?. Sidangku tinggal beberapa hari lagi, tapi kau selalu membuat pikiranku kacau begini. Bahkan membayangkan sekedar menenagkan resahku di pundakmu pun rasanya aku nggak sanggup!!"
"Tapi Mel, ini semua bukan keinginan aku".
"Iya, semua hal yang menyakitkanku selalu kau bilang bukan keinginanmu, padahal semua nyata berasal darimu Briyan!. Sudahlah, lebih baik kau pergi."
Amelia melangkah memunggungi lelaki yang selalu saja mengatakan "ini bukan keinginanku" untuk semua pesakitan yang ia ciptakan di hati wanita yang "katanya" amat sangat ia cintai, termasuk malam ini, kesekian kali membuatnya menunggu berjam-jam untuk janji yang ia buat sendiri lalu, dengan tiba-tiba pula ia batalkan dengan seenak hati. Sampai di persimpangan, Amelia menyebrangi jalan, kemudian tiba-tiba saja
"Brakkkk"
Suara seperti benda terhantam terdengar jelas di telinga Briyan.
"Amelia!!"
Briyan sontak berlari menuju sumber suara berasal. Amelia rebah, darahpun terus saja keluar dari kepalanya yang pecah. Amelia tertabrak, ya, ia tertabrak sebuah mobil yang kemudian langsung saja "berlari" setelah menelindas kepalanya. Tak ada yang berani mendekat, semua hanya berdiri mematung, bahkan sekedar memanggil ambulance saja tak ada yang berani.
"Apa ini?. Aku kenapa?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Kenapa ramai sekali?"
"Briyan, kenapa ia ada di sini dan menangis? lalu kenapa aku tergeletak di sini?"
Aku coba bertanya pada salah satu perempuan setengah baya yang sedang berdiri dalam kerumunan orang yang berada di sekelilingku. Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulutnya.
"Kasihan gadis ini, ia masih terlalu muda untuk meninggal apalagi dengan cara seperti ini. Kulihat tadi ia baru saja bertengkar dengan kekasihnya di depan Cafe itu". Ucapnya pada perempuan setengah baya lain di sebelahnya sambil menunjuk ke arahku. Aku tidak mengerti, ku coba berdiri, dan alangkah terkejutnya aku--saat kudapati diriku sendiri bersimpah darah dan tak bernafas lagi.
"Tidak!!".
Aku melangkah mundur seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku seperti menabrak sesuatu dan terjatuh.
"Aww, sakit sekali".
Sakit? Aku berfikir keras, apakah orang yang meninggal bisa merasakan sakit? Langit malam menjadi sama persis dengan langit-langit kamar. Dan semua keramaian, lalu tubuh yang tergeletak bersimpah darah dan Briyan yang menangis, kemana semua itu? Amelia masih menerawang, sayup-sayup terdengar nada dering dari ponselnya berbunyi dari bawah bantal.
Senin, 03 Februari 2014
Sajak Haiku
HAIKU. Pertama aku dengar kata itu, dalam hati aku langsung berucap "wah ini pasti tentang jepang". Dan benar sekali, haiku adalah sajak yang berasal dari jepang. Awalnya aku tidak tertarik sama sekali. Bahkan ketika seorang temanku membahas soal "Haiku", aku memilih untuk tidak ikut serta dan memilih diam saja. Sampai pada suatu hari, aku bersama orang terdekatku pergi ke sebuah toko buku. Di sana aku menemukan sebuah buku berjudul "Danau Angsa".Yang membuat aku tertarik dengan buku itu bukanlah judul apalagi isinya, akan tetapi aku tertarik dengan sampulnya. Iya, sampulnya. Aku memang salah satu orang yang menilai suatu buku lewat sampulnya. Tapi, itu bukan satu-satunya cara aku menilai sebuah buku. Hanya saja untuk buku-buku yang aku tidak tau aku selalu memilihnya lewat sampul terlebih dahulu, baru kemudian melihat isi buku tersebut. Balik lagi ke soal "Haiku". Iya, buku Danau Angsa tersebut ternyata berisi antologi 500 Haiku dari komunitas Danau Angsa. Awalnya aku ragu untuk membeli buku itu, akan tetapi setelah aku berkeliling dan hampir tertarik untuk mengambil buku puisi lain dan meninggalkan Danau Angsa tersebut, pada akhirnya aku memilih antologi haiku tersebut untuk kubeli.
Sesampainya di rumah dan setelah aku membaca beberapa sajak "Haiku" dari komunitas Danau Angsa, aku seperti menemukan sesuatu yang entah itu apa tapi aku begitu menyukainya. Sepertinya aku jatuh cinta pada haiku. Sajak-sajak tersebut begitu...ahh entahlah, rasanya begitu sulit untuk digambarkan. Rasanya aku begitu ingin menulisnya. Pertama kali aku mencobanya aku merasa begitu kesulitan. Sampai akhirnya aku memulainya dengan mencoba memahami terlebih dahulu apa itu "Haiku". Dan dari buku Danau Angsa jugalah aku tahu, bahwa haiku tidak hanya soal sajak trdisional dari jepang saja. Akan tetapi Haiku merupakan sajak yang terdiri dari 3 bait dan terdiri dari 17 suku kata dimana sajak Haiku ini memiliki pola 5-7-5. Dan yang terpenting lagi, sajak Haiku ini berkaitan denga musim.Meskipun aku telah mencoba memahaminya, aku masih tetap saja merasa kesulitan. Dan ini merupakan sajak Haiku yang telah coba untuk kubuat. Awalnya, aku tidak "PD" untuk memposting Haiku buatanku ini. Sampai akhirnya di sebuah akun puisi ternama @bait_puisi mengadakan tema malam dengan hastag puisihaiku, saat itu lah aku mencoba memberanikan diri untuk meposting Haiku buatanku dan sampailah aku mepostingnya di blog ini.
PEMILU
Tahun pemilu
Nyanyian janji merdu
Semua semu.
PUNGGUK DAN BULAN
Di langit malam
Pungguk rindukan bulan
Cinta hayalan.
DEBU
Temaram lampu
Hias malam berdebu
Bulan cemburu
MALAM
Penghujung senja
Punggung mencuri bulan
Malam Menghilang.
RANTING PATAH
Desau angin
Gugurkan daun kering
Patahlah ranting.
HAIKU HUJAN DAN BANJIR
Musim penghujan
Jalan penuh genangan
Tikus sok pusing
Sumur resapan
Digagas untuk hujan
Sakunya banjir
Tak ada beras
Sawah habis tenggelam
Tikus tak lapar
Itulah beberapa Haiku yang coba kutulis. Jika masih kurang pemaknaanya, aku harap bisa diwajarkan ya, buahahaha. Soalnya aku juga masih belajar, hihihih. Salam kata^^.
Langganan:
Postingan (Atom)