Rabu, 25 Desember 2013

Antara Kau dan Seduhan Kopi(ku)

Perihal kopi.
Aku tak ingin memintamu untuk menyesapnya (lagi) bersamaku.
Sebab dengannya, aku pernah menorehka luka disana, tepat di hatimu.

Perihal kopi.
Aku memang bukan pecinta, atau penikmat serbuk hitam berwarna pekat itu.
aku hanya menyukainya,
menyesap sambil menghirup aromanya
membuatku bisa berimajinasi dalam banyak hal,
terutama tentangmu.

Dekapmu Yang Hilang; Dalam Diam

Dekapmu adalah tempat ternyaman untuk kumerebahkan lelah
Tapi dimana itu sekarang ??
Tak lagi aku melihatnya
Tak lagi bisa aku mendapatkannya.
Meski kau masih begitu nyata di sini ; di sampingku,
Tapi  rasanya kau seolah pergi
Pergi  dengan membawa seluruh hati ini
Tak ada yang tersisa
Hanya puing-puing rasa yang tiada pernah lagi kau satukan.

Setelah bongkahan rindu yang mengkristal ini kau hempaskan,
kau menghilang meski ragamu masih dapat kulihat
Mengatas namakan cinta untuk diammu yang entah.

Aku merintih
Letih dan kucoba untuk berlari
Kau tak perduli tapi selalu menahanku untuk pergi.

Aku terjatuh dan kucoba berdiri dan berlari--lagi
Ikatanmu di kakiku menahanku
Aku terseok, terseret oleh rantaimu
dan kemudian kau memasungku dalam  kata "Tidak Akan"

Tak ada lagi yang bisa aku lakukan
hanya diam.
Diam dan terus diam--sepertinya memang itu yang kau inginkan.

Sabtu, 30 November 2013

Hadiah Kecil Untukmu


Teruntuk “Lelakiku”
Esok adalah hari paling bersejarah dalam  pencapaianmu
Penuh bahagia, itu pasti
Membayangkan senyummu malam ini saja
Hatiku terasa begitu tersentuh
Hingga tanpa sadar
Kolam di mataku telah penuh dengan genangan airnya

Senin, 25 November 2013

Pada Sebuah Senja (Yang Terakhir)

Senja kala itu, entah kenapa terlihat begitu mesra di mataku
Menjadi saksi untuk pertemuan kita yang terakhir, mungkin itu sebabnya
Sekuat mungkin, aku mencoba untuk menahan tangis ini, agar tak pecah
Tapi apa daya, bendungan yang kumiliki, tak sekuat perih yang ada di hati

Maaf

Sesaat sebelum kepergianmu kala itu. Terlihat guratan di wajahmu, yang aku tau itu menandakan sebuah kesedihan. Sorot mata dan kerutan di dahimu, seakan mengatakan ada begitu banyak beban yang kau bawa saat meninggalkan kota ini. Entah itu benar atau  tidak yang kurasakan, tapi melihatnya membuatku ingin membenamkan kepalamu  dalam pelukan dan dadaku. Membelai kepalamu, memeluk dengan sangat erat tubuhmu dan mengecup mesra keningmu. Aku ingin merasakan apa yang  sebenarnya kau pendamkan.

Rabu, 13 November 2013

Pergi Saja ; KAMU

Aku tak pernah menyesali 
Segala rasa yang telah kuberikan kepadamu 
Aku pun tak pernah menyesali 
Atas rasa sakit yang kurasakan karena kisahku denganmu 
Tapi yang aku sesali 
Kenapa kita dipertemukan 
Disaat kau dan aku telah termiliki oleh orang lain

Setiap detik, menit, jam dan hari
Kuhabiskan hanya untuk memikirkan
Apa yang harus kukatakan 
Saat kau menanyakan kepadaku 
Perihal apa yang kuharap darimu
Dan apa yang kumau darimu

Tak Ada Lagi "KITA"

Telah kutanggalkan semua kenangan itu
Semenjak kau memilih untuk berjalan memunggungiku
Dengan begitu angkuhnya kau melangkah
Dan membiarkan aku terbenam dalam setiap tetes air mata
Yang tak pernah ingin aku jatuhkan
Sementara aku

Dengan bodohnya, terus terseok meratapi penghianatan

Harus Dengan Apa ?

Kali ini, pagi memaksa mila kembali menangis. Perisai dan bendungan yang telah sekuat tenaaga ia bangun kala malam saat ia terjaga, tak mampu menahan dan membendungnya. Apa yang salah ?? siapa yang salah ?? Sedikit pun tak bisa ia menjawabnya.

  "untuk apa  hadirku disini jika kenyataannya membuatmu terus merasa sakit seperti ini ?? Apa artinya hubungan ini jika tak membuatmu  bahagia ?? Untuk apa aku terus bertahan dan selalu memaafkan jika engaku tak merasa bahagia dan merasa selalu aku salahkan ??"

mungkin ia terlalu bergantung padanya selama ini. Sehingga ketika apa yang ia rasakan tak seperti apa yang ia harapkan, ia begitu merasa sulit untuk menerimanya. 

"Mencintai itu sulit. Meski terus merasa sakit kita harus tetap membahagiakannya" 

Mungkin itu yang harus mila pahami. Tapi dengan apa ?? jika bertahannya ia disini slalu membuatnya pedih seperti ini.

Rabu, 14 Agustus 2013

Dalam Pagi, Aku BEKU

Pagi yang terasa begitu dingin
Tak pernah sedingin ini
Tak pernah !!
Bahkan ketika aku berada di bawah ribuan rintik hujan pun
tak pernah ku rasakan sedingin ini
Dan kini saat aku meringkuk dan bersembunyi di bawah selimut tebal ku pun
Dingin itu masih terasa begitu membekukan tubuhku
Apa yang salah??
Hanya satu jawabannya ; terlalu menyakitkan
Selain itu tak ada kurasa
Hanya saja

Selasa, 26 Februari 2013

KAU, Tak Ku Kenali Lagi

Siapa yang aku cinta saat ini ??
Entahlah, aku seperti tak pernah mengenalnya

Kau siapa??
Kau begitu asing!!!
Tak pernahkah kau menyadarinya??

Terlalu sibukkah engkau??
Atau, memang cintamu yang tak lagi ada

Aku tak kan menyalahkan siapa-siapa
Salahku yang terlalu menyimpan cinta ini untukmu
Salahmu yang mana yang tak pernah kumaafkan??
Sikap kasarmu yang mana yang bisa buatku bertahan dalam diam??
TIDAK ADA!!
Yahh, memang tidak ada!!

Jika memang cinta itu tak lagi ada untukku

Rabu, 13 Februari 2013

Tak Sama

Apa yang bisa kutulis tentangmu?
tentang kita, tentang cinta ini?
Hanya mematung dan diam disini
Menikmati setiap tetes bulir air mata
Tak bosankah kau membuatku menikmati rasa sakit yang sama?
Tak cukupkah aku merasakannya hanya untuk sekali saja?
Bagaimana semua itu dapat aku lupakan jika kau terus saja mengulanginya?
Entah apa alasannya, tapi cinta dan caramu memperlakukanku kurasakan tak lagi sama seperti dulu!!


 
Pecinta yang Diam Blogger Template by Ipietoon Blogger Template