Tentang masa lalu, ia tak lebih dari rasa yang telah dirupakan menjadi sampah. Maka berhentilah
mengaisnya. Itu hanya akan mencipta luka yang seharusnya tak perlu kembali ada.
Hujan turun begitu deras. Aku terdiam, terus menatap punggung yang sejak tadi tak juga berhenti mengais tumpukan-tumpukan buku usang penuh debu itu.
"Kamu nyari apa sel?"
Pemilik punggung itu masih tak juga
bergeming. Aku masih saja diam dalam resah. Di kepalaku berkelibatan
berpuluh-puluh pertanyaan sama yang tak juga aku temukan jawabannya—apa yang
sebenarnya dia cari ?. Tiba-tiba saja punggung itu berhenti bergerak setelah
menemukan satu buku yang sangat-sangat aku kenali. Astaga mau apalagi dia?
Terakhir dia membaca buku yang tak jauh berbeda dengan yang saat ini ada di
tangannya, perang dunia yang entah keberapa terjadi di dunia kami.
“Huuuhh”.
Aku menghela nafas dan hatiku terasa
begitu nyeri. Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini. Terus dihakimi
perihal masa lalu yang aku sendiri sebenarnya tak ingin mengingatnya lagi. Kamu
itu kekasih atau pengacara yang menghakimiku sel? Kita sedang menjalin cinta
bukan? Lagi-lagi semua pertanyaan itu hanya mampu bergeming di hatiku.
Marsel masih saja diam, sepertinya
terlihat begitu asik membolak balikan kertas yang telah menguning itu. Aku diam
saja, karena jujur saja aku tidak tahu harus melakukan apa. Itu semua masa laluku.
Tapi kenapa terus dihadirkan oleh masa depanku.
“Huhhhh”. Aku menghela nafas untuk yang
ke dua kalinya.
“Nilu ini apa?”
“Kenapa kamu masih bertanya? Kamu
menemukan itu di antara tumpukan buku-buku usangku bukan? Ahh tidak, kamu
mencarinya. Yah, kamu mencarinya tadi. Harusnya kamu tau itu apa, bukan justru
bertanya kepadaku Marsel”.
Marsel terdiam, menunduk dan masih saja
membolak-balikkan lembar demi lembar buku usang itu. Tak ada pilihan lain, aku
harus mengabaikannya. Yah, mengabaikan apa yang membuatku luka.
“Aku pulang”.
“Yah, jangan pernah kembali ke sini lagi”.
“Bukankah kamu tidak pernah
memperdulikan apa yang kau rasakan?” Marsel pergi begitu saja meninggalkanku. Aku
terdiam. Hanya itu yang bisa aku katakan untuk mengantarkan kepulangannya.
Bahkan kakiku pun terasa begitu berat untuk melangkah mengantarkannya sampai ke
beranda rumah. Kesekian kalinya marsel memperlakukanku seperti ini. Mengungkit
masa lalu yang dia anggap menyakitinya tanpa pernah berfikir itu juga
menyakitiku. Apakah aku di sini dan memilihnya tak juga cukup untuk membuatnya
mengerti seberapa besar cinta yang kupunya untuknya ini ?.
Aku melangkah dengan perasaan yang
entah. Andai saja aku bisa menangis sederas hujan malam ini, bukan hanya air
yang menggenang namun tak jatuh dari mataku. Ini sangat menyakitkan, yah sangat
menyakitkan. Mungkin air mataku telah mongering dan habis. Sakit ini sudah
terlalu sering aku rasakan. Kurasa, kita tak perlu lagi bersama. Aku hanya
mencipta luka bagimu bukan? Jangan pernah memintaku kembali sebelum kau mampu
menghargai hadirku disini, dan berhenti mengais luka dalam rasa yang telah
kulebur menjadi sampah.
Hatimu
lemah, tak siap dan tak kuat.
Tapi
kenapa, kau selalu saja mengais luka di antara tumpukan-tumpukan rasa yang
telah kujadikan sampah.
Ini
semua bukan hanya tentangmu, tapi ini tentang kita. Bukankan kita itu berarti
kau dan aku?
Aku
di sini sekarang denganmu, tapi kenapa kau selalu berlari ke ujung masa laluku
dan mengaisnya kepermukaan lalu menyiramnya dengan larutan asam?
Kapan
kau sadar aku di sini berarti aku memilihmu?
Dan
kapan kau sadar luka itu tak hanya menyakitimu?
Mungkin
aku harus pergi
Sebab
aku di sini saja tak bisa buatmu mengerti
Yah,
aku pergi, dan jangan pernah memintaku kembali.

0 komentar:
Posting Komentar