Cinta
tak selalu jatuh pada orang yang tepat. Itu lah yang menyebabkan seseorang
merasakan sesuatu bernama “Derita”. Dan untuk menemukan cinta yang tepat, terkadang
seseorang perlu jatuh terlebih dahulu dalam sebuah kesalahan yang begitu
mendalam.
Pagi itu seperti biasa,
aku melangkahkan kakiku ini dengan penuh keyakinan. Yang berbeda hanyalah, saat
ini aku melangkah bersama kepingan hati yang tersisa. Kucoba saja untuk biasa,
tersenyum dan menyapa pada mereka yang saat itu punya tujuan yang sama
denganku--mengikuti tiap-tiap kelas hingga berakhir dengan hasil memuaskan. Entah
kenapa, pagi dan kelas beserta isinya pun seolah hanyalah kepingan yang
tersisa. Meski mataku terus menatap proyektor yang terpampang jelas dihadapanku,
aku tetap saja melihatnya samar. Dan meskipun telah kukerahkan seluruh
kemampuan otakku untuk menangkap apa yang dosen sampaikan, tetap saja hanya
kepingan-kepingan yang tersisa yang bisa kupahami. Hanya judul materi tanpa
satupun isinya yang kuingat.
“Sampai jumpa di
pertemuan selanjutnya”
Kalimat itu menyadarkan
aku dari lamunan yang telah kuputuskan untuk kupilih sejak aku menyadari tak akan
bisa menyerap materi perkuliahan hari ini. Tanpa instruksi, langsung saja kubawa
buku dan tasku beranjak dari ruang pekat itu untuk segera menuju toilet.
Membasuh muka, diam dan berdiri menatap lekat-lekat setiap inci wajahku.
“Hei,
kamu ngapain dikelas diem aja. Begitu selesai kelas langsung aja nyelonong ninggalin kita. Terus sampe disini ngeliatin muka sendiri kayak ngeliat muka setan aja serius bener, gak biasanya kamu gini Ven”.
kamu ngapain dikelas diem aja. Begitu selesai kelas langsung aja nyelonong ninggalin kita. Terus sampe disini ngeliatin muka sendiri kayak ngeliat muka setan aja serius bener, gak biasanya kamu gini Ven”.
Dina, salah satu dari
kedua emmm,,sahabat atau lebih tepatnya teman yang paling dekat denganku
membuyarkan semua peperangan yang aku lakukan bersama diriku sendiri.
Berbicara perihal
sahabat, aku merasa tidak pernah memilikinya. Sedekat apa pun pertemananku, aku
menganggapnya biasa saja, hanya sebatas teman. Karena tidak segala hal aku
bagikan kepada mereka, ceritaku, resahku, sedihku, begitu juga sebaliknya.
“Gak pa pa Din,
ngantuk”, ucapku sekenanya sambil mengusap muka basahku dengan tisyu yang di
sodorkan teman terdekatku terakhir si Giska.
“Kita kekantin yuk,
laper banget ni”, ajak Giska.
Dan tanpa persetujuanku
dan Dina, ia berjalan keluar dari toilet dan menuju kantin. Aku dan Dina pun
pasrah aja buat ngikut. Maklum, selera makan temenku yang satu ini emang gak
bisa dibendung.
***
“Dhan,
kenapa semua harus sesingkat ini??”
“Dingin tu capucino
kalo diliatin mulu, percuma beli yang panas kalo sampe dingin gitu gak di
minum, mending buat aku aja”.
Bayangan itu pun tiba–tiba
menyerpih dan hilang berterbangan begitu saja. Dan tanpa persetujuanku laki–laki
itu langsung mengambil alih cangkir kopi yang sedari tadi hanya kugenggam tanpa
kulihat apa lagi kuminum isinya.
“Kamu kenapa yank dari
tadi diem aja kayak kesurupan gitu, kamu sakit ya??”
Yank ?? lama sekali
rasanya tidak kudengar kalimat itu keluar dari mulutnya dengan selembut itu.
Sejak penghianatan itu, yang aku dengar selalu keketusan. Meski telah kumaafkan
penghianatannya, tetap saja rasa sakit dan kepercayaanku tidak dengan begitu
saja bisa aku kembalikan seperti dulu. Memaafkannya tak berarti kubisa kembali
menerima dan melupakan begitu saja perlakuannya yang begitu tak menghargaiku.
“Aku mau ke toilet
dulu”
“Aku temenin ya
yank??”,
“Aku bisa sendiri”, Aku
berlalu tanpa menghiraukan tatapannya kepadaku.
***
Kenapa
harus ada dia dan dia. Kenapa kita harus ada di antara mereka Dhan?? Kenapa
kamu harus berhenti disini ?? kita dipertemukan karena satu hal yang sama.
Sama–sama memiliki hati yang mencelah karena mereka yang sulit bahkan tak mau
mengerti kita. Kita saling masuk dan mengisinya sedikit demi sedikit, hingga
celah itu terisi penuh memenuhi hati kita. Dan ketika kita telah memenuh,
melengkap hingga tak lagi merasakan celah yang tersisa, kenapa sekarang kita
harus terpisah karena hal yang sama pula. Karena mereka kembali kepada hati
kita.
Setelah kurasa cukup
berkutat dengan pertanyaan–pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya, aku
memutuskan kembali ke tempat dimana para mahasiswa melepaskan penatnya dari
pelajaran yang tak jauh dari analisis dan logika yang benar–benar menciptakan
penat. Dan betapa terkejutnya aku ketika aku sampai pada meja yang tadi kutinggalkan
dan ternyata yang tertinggal disana hanya Evan yang sedang duduk dan menatap ke
arahku dengan mata tajamnya. Mata tajam yang beberapa bulan ini selalu kudapati
di setiap tatapannya. Belum lagi sempat aku duduk, aku telah di hujani
pertanyaan yang lebih pantas di sebut menghakimi.
“Siapa ??!!”
“Kenapa disetiap lembar
akhir catatanmu ada nama itu ??”
“Kamu sudah berani
main–main sama aku ??!!”
Tatapan tajam itu masih
melekat menatapku dengan tangan yang tak henti menunjuk lembar terakhir dari
catatan materi kuliahku.
Main–main dia bilang
??!! lalu apa sebutan untuknya yang telah menghianati semua yang telah aku berikan
selama ini?? egois !! celotehku dalam hati. Aku pun tetap saja tak bergeming
dan menatapnya dengan wajah yang sebisa mungkin kudatarkan.
“Jadi ini yang kamu
dapet dari sembilan puluh menit perkuliahan tadi??!!”
“Venia
jawab aku !!”
Dan
akhirnya teriakan itu keluar juga dari mulut laki–laki yang selama ini pernah
menjadi penyejuk dalam hari–hariku. Dan beruntung tempat dimana aku di hakimi
sepihak ini dipenuhi pengeras suara yang menyamarkan teriakan laki–laki penuh
ego dan bermata dingin itu.
“Udah
selesai nanyanya??
“Mau
berdebat bukan disini tempatnya!!”
Dan
aku berlalu pergi setelah kuraih tas yang tak lagi berisi. Satu–satuya buku
catatan yang slalu memenuhi tasku tertinggal di sana, ditangan lelaki bernama Evan.
Lelaki yang telah hampir empat tahun ini menjadi kekasihku dan beberapa bula
terakhir ini memmilih untuk menghianatiku.
***
“Maaf ya lama”
“Gak pa pa. Capuccinonya dingin, mau
pesen yang baru lagi ??”
“Emm,,gak usah, ini aja
gak pa pa”
Sore itu kami janji bertemu
di tempat yang sama, Coffee Shop di sebuah mall terbesar di pusat kota. Kami
sama–sama penikmat kopi. Apa pun jenis kopi itu.
Masih dalam diam. Aku
dan dia, Dhani Dwi Admaja. Lelaki yang kerap kusapa dengan sebutan Dhan. Kami masih
saling membisu tak mengeluarkan satu katapun. Kuputuskan untuk memberanikan
hatiku untuk memulai semuanya.
“Emmm..kayaknya ini
yang terakhir Dhan”
“Terakhir apa?”
“Kita ketemu” jawabku sesingkat
mungkin dengan kepala tertunduk. Alih-alih mengaduk secangkir kopi dari waiters
itu, tapi justru mataku yang perlu adukan untuk menyeka air mataku agar tak
jatuh.
Sial! kenapa aku
menangis?!! gerutuku dalam hati.
“Hmmmm”
Hanya gumaman yang
kudengar darinya yang mungkin saja ia keluarkan dengan anggukan kepala yang tak
dapat kulihat.
Kami kembali terdiam.
Kecanggungan di antara kami entah kenapa tiba-tiba saja tercipta. Hingga
tiba-tiba kata tak terduga itu keluar dari bibirnya.
“Aku ga bisa Ven. Aku
ga bisa ngelepas dan kehilangan kamu. Kalau soal sintiya, aku udah putus
dengannya tadi malam.”
“Gila kamu Dhan!!. Kamu putusin dia gitu
aja setelah kalian tiga tahun bersama?? kenapa Dhan??". tanyaku dengan rasa
terkejut dan begitu penasaran.
“Dia lagi-lagi tidak bisa
mengerti dengan kesibukanku Ven” jawabnya dengan nada bahkan raut muka datar tak merasa bersalah dan biasa saja tanpa menatapku.
“Dan lagi, tanpa dia
bersikap seperti itu pun, aku tetap ingin memutuskannya Ven. Karena aku telah
memilihmu.” Tambahnya lagi.
Aku semakin terdiam.
Terus berfikir harus aku apakan semua kegilaan yang tengah terjadi ini. Dan
akhirnya..
“Aku tetap tidak bisa
Dhan”.
“Maaf aku harus pergi sekarang.”
“Terimakasih untuk
waktu dan kebahagian yang sempat kau berikan. Dan ini, Liontin ini, aku tak
bisa menyimpannya.” Akupun berlalu tanpa memandangnya sekalipun.
Kulangkahkan kakiku
dengan tujuan yang entah. Aku hanya ingin terus berjalan hingga aku benar-benar
merasa lelah dan tak kuasa. Setelah 2 Jam aku berkeliling, aku memutuskan untuk
pulang dan merebahkan segala lelah ini.
***
Musikalisasi Puisi yang
mengalun menandakan ada panggilan masuk pada smartphone yang kuletakkan digawah tempat
tidur membangunkanku dari pejam yang sebenarnya tidak terlalu lelap.
“Kenapa?”
“Kita perlu bicara”.
Suara Evan dari sebrang sana terdengar begitu kesal dan penuh dengan amarah.
“Bicara aja. Mau bicara
apa kamu??”
“Buka pintunya, aku di
depan kamar kamu!”
Tuutt tuttt tuuttt..
Terdengar suara
pemutusan telfon yang dilakukan secara sepihak dari sebrang sana. Dengan begitu
enggan kubangkit dan kubuka pintu kamar kos yang sengaja kukunci.
“Sudah lama?? Maaf aku
tidur sambil denger mp3 jadi gak denger ada orang dateng”.
“Denger mp3 bisa buat kamu
gak denger ada orang tapi bisa denger handphone bunyi?!! Hebat telinga kamu
Ven!!”. Teriak Evan sambil berlalu memasuki kamar kosku.
“Maaf”, meski terasa
begitu berat, satu kata itu terpaksa kuucapkan untuk menghindari kenaikan nada
suaranya yang bisa lebih menyiksa telingaku.
“Ada apa??”
“Kamu mau tau perihal
nama itu??”
“Dhan,, Dhani Dwi
Admaja. Dia orang yang slama ini ada disaat kamu terlalu sibuk mengabaikan aku
untuk perempuan itu”.
“Kenapa ? kamu gak suka
kalo dia sekarang ada bahkan hampir memenuhi hati dan kepalaku??”
“Kalo kamu gak suka
silahkan pergi”. Ucapku sekenanya dengan berusaha sebisa mungkin untuk
mendatarkan mukaku agar dia tidak terus meremehkan perasaanku.
“Kamu mau ngebiarin aku
pergi untuk laki–laki seperti dia?? Laki–laki yang tidak kamu tau jelas siapa
dan bahkan kamu tau dia udah punya pacar dan kamu masih tetap mau jadi yang ke dua?!!”
“Dimana harga diri kamu
Venia?! Dasar cewek….
“Cewek apa ?? kamu mau bilang aku cewek
murahan gak punya harga diri mau di duain ??!!” Ku tatap tajam matanya dengan
seluruh kekuatan mataku.
“Lalu apa bedanya jika
aku masih bersama kamu. Kamu juga ngianatin aku !!”
“Sudah lah Evan, pergi
!!”.
“Sekalipun kamu
kembali, rasaku ini tak bisa kuberikan lagi untukmu”.
“Penghianatanmu kali
ini sudah sangat menghancurkan hatiku. Dhan memang tidak sendiri, dan aku juga
tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin aku mencintainya sekarang, tapi aku
tidak ingin merebutnya dari kekasihnya. Aku tidak ingin dan aku tidak akan”.
“Dia akan selalu aku
simpan di hati aku sebagai seseorang yang pernah mengindahkan hidupku ketika kamu,
seseorang yang telah ku percaya untuk menjaganya justru menghancurkannya”.
“Jadi silahkan kamu
pergi dan jangan ganggu hidup aku lagi. Aku tidak bisa lagi menjalani kisah ini
bersama kamu Van”.
Kutarik tubuh Evan kearah pintu dan mendorongnya keluar dari kamarku. Langsung saja kututup pintu itu tanpa sedikitpun melihat wajahnya yang tak
pernah bisa lagi aku gambarkan sejak dia menghianati semua kepercayaan yang
telah kuberikan. Masih dalam keadaan berdiri dan bersandar pada pintu kamarku
aku terus berfikir dan bertanya. Dari mana Evan tau perihal Dhan telah memiliki
kekasih. Ahh mungkin saja dia telah menemukan akun facebook Dhan. Sama seperti aku
yang saat kutemukan akunnya sejak saat itu pula ku tau Dhan telah berkekasih.
Tapi ku pilih bungkam saja.
Seminggu setelah
keributanku dengan Dhan di Coffee Shop dan keributanku dengan Evan di kamar
kosku, sekalipun aku tak pernah menjawab telfon dari mereka yang dalam sehari
bisa menderingkan Handphoneku lebih dari sepuluh kali. Aku hanya ingin sendiri.
***
Penat sekali. Aku
memang tak pernah bisa berdiam ketika aku berada dalam keadaan seperti ini. Kuputuskan
untuk pergi menenangkan diriku ke tempat yang paling kusuka.
Evan,
kamu memang pernah jadi yang terbaik dalam beberapa tahun ini dalam hidupku.
Aku lakukan segala yang aku bisa untukmu, untuk mempertahankan cintamu. Bahkan
bertahun–tahun kau memposisikan aku sebagai pengemis cintamu pun aku tetap diam
dan tak bergeming dari kisah ini. Tapi aku sungguh benar-benar tidak percaya
kau bisa menghianatiku ketika aku sangat membutuhkan kehadiranmu dalam hari-hariku.
Dan perkenalan tak disegajaku dengan Dhan telah membuka sedikit fikiranku.
Pertemuanku dengannya mengajarkanku beberapa hal. Belajar merelakan dan melepas
cinta yang tak lagi ada disini bersamaku. Meski tak kupungkiri aku masih
menyimpan rasa yang begitu besar untukmu di belahan hatiku yang terdalam.
Kurentangkan kedua
tanganku agar aku bisa merasakan hembusan lembut angin dari atas bukit ini. Dan
kubiarkan bayangan itu menyerpih agar angin bisa membawanya pergi dari hati dan
fikiranku.
Dhani
Dwi Admaja, terima kasih untuk bahagia yang pernah kau cipta dalam luka cinta
yang telah ia gores di hatiku. Sekalipun akhirnya perih kisah ini, setidaknya
kau pernah membuatnya indah penuh bunga. Dan sekarang pergilah,kembali
kepadanya. Jangan pernah kau benar-benar jalankan niatmu untuk meninggalkannya
agar tetap bisa bersamaku. Aku tau Dhan, jauh didalam hatimu masih ada cinta
kasih, dan kepedulianmu untuknya. Seperti yang pernah kau ucapkan kepadaku malam
itu Dhan. Bahwa kesempurnaan itu sesungguhnya ada di depan kita, dan itu ada di
hadapanmu Dhan, ada pada kekasihmu Sintiya, bukan padaku. Aku hanya sebagian
kecil yang mengisi celah dalam hatimu ketika ia meretak. Aku yakin, jika kau
bersungguh-sungguh menyatakan penyesalan atas keputusan gilamu itu, Sintiya
pasti memaafkanmu dan kembali menerimamu. Mungkin aku harus lupakan dan relakan
kamu dan kita saling mengenang satu sama lain Dhan
Kulangkahkan kakiku
meninggalkan tempat ini dan segala cinta yang telah kubiarkan pergi. Sendiri
mungkin sesuatu yang terbaik yang bisa ku dapatkan saat ini.
Saat beberapa langkah,
kurasakan tangan kokoh yang sepertinya sangat kukenali meraih dan menggenggam
jemariku. Siapa yang tau tempat kesukaanku untuk menyendiri dalam keadaan seperti ini?
“Aku tidak akan
melepaskanmu begitu saja Ven. Aku dan kamu akan selamanya saling menggenggam.
Karena di sela-sela jariku inilah tempatmu tinggal. Dan tubuh mungilmu itu adalah rumah tempatku pulang”
0 komentar:
Posting Komentar